Akademisi: Basis Massa Jadi Penentu
Ambon - Pilkada Maluku akan berlangsung tahun 2018. Meskipun masih setahun lagi, tetapi beberapa figur sudah diwacanakan bakal maju bertarung melawan pertahana Said Assagaff.
Misalnya Herman Koedoeboen dan juga Tagop S Solissa. Kedua tokoh ini tidak asing lagi ditelinga masyarakat.
Herman Koedoboen adalah mantan Wakil Kajati Maluku, yang pernah maju bertarung melawan Said Assagaff dalam Pilkada 2013 lalu. Saat itu, Herman kalah, meskipun menang di Kabupaten Malra, Kabupaten MBD, Kabupaten MTB, Kabupaten Aru dan Kota Tual.
Sedangkan Tagop Solissa, ialah Bupati Buru Selatan. Terhitung, Tagop sudah menjabat Bupati Bursel selama satu periode dan dua tahun di massa periode keduanya.
Kini, Tagop menyatakan diri untuk maju bertarung melawan Assagaff, dengan harapan besar, PDIP bisa memberikan rekomendasi baginya. Mengingat, Tagop merupakan salah satu kader PDIP yang bisa dibilang cukup loyal.
Disatu sisi, kedua figur ini bakal memiliki saingan berat. Sebab, Herman dan Tagop akan melawan petahana yang dinilai punya kualitas sebab sudah terbukti selama memimpin Maluku lima tahun ini.
Menyikapi persaingan antara tiga figur serta peta kekuatan ketiganya, akademisi Unpatti Paulus Koritelu menilai akan ada persaingan kuat antara Assagaff dan Herman. Sebab, jika kembali lagi ke Pilkada 2013 lalu, Herman didukung penuh oleh realita politik yang berbasis etnis. Pilkada akan diwarnai pertarungan antara basis massa antara Assagaff vs Koedoeboen. “Basis massa atau dukungan milik Herman Koedoeboen sangat besar dari etnis masyarakat Maluku bagian Tenggara,” kata Koritelu kepada Siwalima di Ambon, kemarin.
Diakuinya, dukungan etnis bagi Herman, tidak dimotori oleh siapapun. Namun, tergalang begitu saja secara alami. Diperkirakan, basis ini masih kokoh bagi Herman, jika Jaksa di Kejaksaan Agung itu maju lagi dalam Pilgub 2018.
“Saya pikir dukungan untuk Herman tetap ada. Karena dukungan politik untuk Herman, tergalang secara alami tanpa dimotori oleh siapapun, sehingga patut menjadi lawan tanding yang serius bagi Assagaff,” ungkapnya.
Sementara Assagaff, memang diakui masih punya kekuatan yang sangat kuat, karena, selama massa kepemimpinannya, bisa dikatakan baik, sehingga kekuatan petahana yang melekat padanya, tentu menjadi perhitungan lawan-lawannya.
Sementara kekuatan Tagop, menurut Koritelu, akan ditentukan oleh siapa wakilnya. Karena keberhasilan seorang gubernur akan ditentukan oleh siapa wakilnya.
Sebaliknya, Akademisi universitas Darusalam Ambon, Zulkifar Lestaluhu menilai, kekuatan tiga sosok ini, belum bisa dilihat, sebab jika masih berdiri sendiri, belum dapat dipetakan kekuatan masing-masing figur.
“Saya belum bisa menilai sampai dimana kekuatan politik tiga figur ini, “ujar Lestaluhu kepada Siwalima di Ambon, kemarin
Kendati begitu, lanjut Lestaluhu, Assagaff masih diuntungkan, karena dimana-diman dalam pilkada, keberadaan petahana selalu jadi perhatian. Apalagi didukung faktor bukti kerja nyata yang sudah ditorehkan oleh Assagaff.
“Dimana-mana, petahana itu selalu kuat. Tetapi, kekuatan Assagaff, akan ditentukan oleh siapa wakilnya nanti. Kalau wakil yang salah, maka peluang menang juga belum tentu berpihak, meskipun beliau petahana,” ungkapnya.
Sedangkan Herman, memang diyakini punya basis massa berupa dukungan kuat dari sisi etnis sehingga apabila dikolaborasi dengan Abdullah Vanath seperti yang diwacanakan, maka tentu akan menjadi lawan berat bagi Assagaff.
“Pak Herman punya prestasi. Saya rasa dukungan untuk beliau juga masih kuat,” ujanya.
Sedangkan Tagop, menurutnya, harus memilih pasangan, dalam hal ini wakil yang tepat. Sebab jika tidak, maka keberhasilan Tagop belum bisa terukur.
Sebelumnya, diperkirakan akan ada tiga bakal calon yang nantinya meramaikan Pilkada Maluku tahun 2018.
Pilkada masih satu tahun lagi, namun pemanasan ke arah itu sudah mulai dilakukan. Partai politik yang digunakan sebagai sarana menuju perhelatan lima tahunan itu, bahkan sudah mengelus jagonya masing-masing.
Beberapa diantaranya bahkan terang-terangan menyodorkan jagonya ke publik. Partai Golkar misalnya, yang besar kemungkinan memajukan nama gubernur petahana, Said Assagaff. Dalam posisinya sebagai Ketua Golkar Maluku, Assagaff diuntungkan, karena sudah memiliki modal awal enam kursi di DPRD Maluku.
Assagaff sendiri sudah secara gamblang menyebutkan kalau dia akan kembali maju. Sesuai aturan, dengan enam kursi yang sudah digenggam, Assagaff hanya butuh tiga kursi lagi sebagai syarat untuk bisa ikut dalam kontestasi nanti.
Sebagai petahana, tentulah Assagaff yang paling banyak dilirik oleh mereka yang berkeinginan maju sebagai calon wakil gubernur. Itu karena diatas kertas, patahana memiliki peluang lebih besar untuk menang, ketimbang new comers.
Tak pelak, sejumlah calonpun mulai datang mendekat. Nama beken seperti Ketua DPRD Maluku Edwin A Huwae, Bupati Maluku Tenggara Andreas Rentanubun, adalah dua dari sedikit nama yang merapat ke Assagaff. Rentanubun bahkan sudah lebih dari dua bulan, gencar menebar alat peraga sosialisasi keduanya, ke seluruh wilayah Maluku.
Dibanding Andre, panggilan akrab Rentanubun, Edwin yang juga Ketua PDIP Maluku, masih malu-malu. Namun dalam suatu kesempatan, Huwae mengaku siap, apabila partai besutan Megawati Soekarno Putri itu, memerintahnya untuk mendampingi Assagaff. (S-46)

Post a Comment