Header Ads

Ubah Sampah Jadi Berkah

LPMINSTITUT.COM - UIN JAKARTA
Ubah Sampah Jadi Berkah

Awalnya, Khilda dan kawan-kawan mendapat tugas menjadi pendamping masyarakat untuk tempat pengelolaan sampah di Cimahi. Mereka yang merupakan mahasiswa Teknik Lingkungan, Universitas Pasundan, Bandung, Jawa Barat, memberikan pelatihan  pengelolaan sampah kepada masyarakat. Pelatihan itu berupa pembuatan pupuk kompos dan aneka barang kerajinan yang layak jual dari sampah. 

Kegiatan mereka disambut antusias oleh warga sekitar. Terlebih ketika mereka ingin mengadakan pasar rakyat untuk memasarkan produk hasil pengelolaan sampahnya. Dari situlah, pada tahun  2009, Komunitas Sampahkoe resmi didirikan. Sehinggga program pendamping masyarakat dalam mengelola sampah terus berlanjut sampai sekarang . 

Pada tahun pertama didirikan komunitas ini banyak mengalami rintangan. Salah satunya dari segi pendanaan. Hingga, sebagai ketua Khilda harus rela menyisihkan 30% dari gajinya untuk kegiatan Komunitas Sampahkoe. Begitu pun dengan anggota lainnya yang secara konsisten memberikan pelatihan kepada masyarakat.

Usaha dari anggota komunitas sampahkoe pun membuahkan hasil. Komunitas Sampahkoe semakin mendapatkan sambutan baik dari masyarakat luas. Bahkan yang awalnya wilayah binaan Sampahkoe hanya di Cimahi, bertambah luas ke daerah Sukabumi, Bandung, dan Jambi. Hingga kini, total masyarakat yang dibina mencapai 5000 orang.  

Komunitas Sampahkoe menjalankan beberapa program, salah satunya membina ibu-ibu rumah tangga untuk lebih produktif mengelola sampah. Ibu-ibu rumah tangga diajarkan untuk membuat berbagai kerajinan tangan dari sampah yang kemudian dijual di pasar sehingga menjadi tambahan pendapatan mereka. 

Tak hanya itu, Komunitas Sampahkoe membuka program tabungan bersalin (berlin). Seperti yang dilakukan ibu-ibu  Desa Palasari, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Para ibu yang bergabung dengan komunitas Sampahkoe menyisihkan uang hasil kerja produktifnya dari untuk kegiatan bersalin mereka. Mulai dari pemeriksaan ketika hamil hingga melahirkan. 

Selain kerajinan dari sampah, Komunitas Sampahkoe membuat produk suka saku enzim dari sampah organik. Enzim ini mengandung probiotik untuk penanganan pertanian, peternakan, pengelolaan limbah industri, pengelolaan energi alternatif dan lain-lain.  Hingga akhirnya, Komunitas Sampahkoe membuat pertanian hidroponik yang lahanya berada di Kota Baru Parahyangan. 

Selain suka saku enzim, Komunitas Sampahkoe juga membuat bioetanol dari bahan dasar sampah sayur, buah, dan kertas. Bioetanol merupakan bahan bakar untuk kendaraan-kendaran bermotor. Sehingga bioethanol dapat digunakan sebagai pengganti solar dan bensin. 

Bagi Khilda dan kawan-kawan komunitasnya, sampah merupakan berkah dalam hidup. Menurutnya, sampah pun mampu memdorong perekonomian dan kemandirian masyarakat jika mau dan mampu mengolahnya. ”Allah mencintai kebersihan, karenanya kita semua mendapat berkahnya dari sampah,” ujar wanita yang mendapat berbagai penghargaan di tingkat daerah hingga internasional ini.


Jannah Arijah

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.