Langkah GBM Wujudkan Pemerataan Pendidikan Banten
LPMINSTITUT.COM - UIN JAKARTA
Langkah GBM Wujudkan Pemerataan Pendidikan Banten
Wisuda pengajar Gerakan Banten Mengajar (GBM) digelar dalam acara bertajuk Rembug Penggerak Pendidikan Banten: Peluang dan Tantangan Menghadirkan Pendidikan Inklusif dan Berkualitas Setara Untuk Mendukung Kesempatan Belajar Setiap Anak di Banten yang dilaksanakan pada Sabtu, (15/10) di Futsal Camp, Tangerang Selatan. Wisuda tersebut diikuti oleh 15 orang pengajar GBM angkatan ke-II dan ditandai dengan penyerahan sertifikat.
GBM adalah
komunitas yang terdiri dari beberapa orang sebagai pengajar dan penggerak yang
peduli di bidang pendidikan, khususnya di daerah Banten. Agustus lalu, pengajar
GBM angkatan ke-II ditempatkan di beberapa sekolah di daerah Pandeglang,
Banten, untuk mengabdi pada masyarakat sekitar. Laporan pertanggungjawaban
(LPJ) kegiatan tersebut kemudian disampaikan oleh penggerak GBM angkatan ke-II
Muammar Alwi sekaligus penyerahan LPJ kepada Steering Comitte Fauzan Arrasyid dalam Rembug Penggerak Pendidikan Banten. Setelah penyerahan LPJ, Alwi memberikan penyerahan amanah
kepada Project Leader GBM angkatan ke-III Rahmi Febriani.
Acara
tersebut dilanjutkan ke talkshow
pendidikan yang membahas tentang tidak meratanya pendidikan untuk anak bangsa
seperti halnya di daerah Muncang, Banten. Talkshow
tersebut dihadiri oleh Perwakilan Direktur Jenderal Guru Tenaga Kependidikan
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Gogot Suharwoto, Kepala Unit Pelaksanaan
Teknik Pendidikan Daerah Muncang Rukyat, Perwakilan Dinas Pendidikan Banten
Lukman, dan Pendiri GBM Angger Sutawijaya.
Pendiri
GBM Angger Sutawijaya mengatakan, terbatasnya tenaga pengajar menjadi salah
satu faktor yang memengaruhi kulitas pendidikan di Muncang. Tak hanya itu,
Angger juga menjelaskan bahwa tingkat ekonomi di daerah tersebut masih rendah.
“Mereka hanya mendapatkan gaji sebesar Rp200ribu,” ujarnya, Sabtu (15/10).
Menurut Project Leader GBM angkatan ke-III Rahmi
Febriani, Rembug Penggerak Pendidikan
Banten bertujuan untuk saling berbagi pengalaman antar pengajar GBM. Tak hanya internal GBM, sharing pengalaman juga dilakukan dengan
beberapa komunitas yang sama-sama bergerak di bidang pendidikan, semisal
Komunitas Turun Tangan Banten dan Komunitas Untuk Negeri. “Kami mencari solusi
untuk penyetaraan pendidikan di Banten. Sebab, kondisi pendidikan di sana
sangat berbeda antara perkotaan dengan pedesaan,” ungkapnya, Sabtu (15/10).
Pengajar
GBM angkatan ke-I Titin Supartini Yunengsih berpendapat, acara ini juga menjadi
ajang silaturahmi, terutama untuk semua angkatan pengajar GBM. “Di sini kita
juga mengevaluasi kekurangan pengajar GBM dan kemudian diperbaiki di angkatan
selanjutnya,” pungkasnya, Sabtu (15/10).
Salah satu
pengajar GBM angkatan ke-II Muhammad Noval Karom menuturkan, dengan adanya
acara ini ia bisa mengetahui kondisi pendidikan di masa sekarang dan masa yang
akan datang. Dari sini, ia berusaha untuk lebih peka dalam meningkatkan
pendidikan di Indonesia.
Noval
bercerita, alasannya bergabung dengan GBM karena prihatin dengan kondisi
pendidikan yang tak merata di daerah Banten. Jurang terjal kualitas pendidikan
antar perkotaan dengan pedalaman menjadi salah satu faktornya. Ia berharap,
anak-anak di Indonesia mendapat pendidikan yang sama rata, baik itu di desa
maupun di kota. “Supaya ada jiwa kompetitif di antara mereka,” pungkasnya,
Sabtu (15/10).
AZ


Post a Comment