Jepara galau, budaya Kejawen Batealit punah
Seni tradisional Jepara membutukan uluran tangan kearifan lokal agar karya adiluhung ini berbuah rezeki internasional.LENSAINDONESIA.COM: Adanya pendapat bahwa saat ini generasi Jepara mengalami keresahan dan kegamangan kiranya benar adanya. Sebab, dulu di Jepara, terutama kecamatan Batealit pernah menjadi salah satu sentra kaum budayawan, tetapi kini sudah terdegradasi pengaruh budaya dari luar.
Bahkan, pengaruh luar di Jepara-Jateng itu mengancam budayawan lokal, utamanya budaya kejawen asli itu sendiri.
Banyak pihak yang mempertanyakan mengapa kesenian Jepara asli, seperti Kentrung dan Limbuk tidak dimunculkan kembali? Masalah kebudayaan adalah masalah bagaimana cara pandang terhadap jenis kebudayaan oleh masyarakat itu sendiri.
Jika masyarakat Jepara sudah menganggap kebudayaan asli lebih rendah nilainya di banding budaya baru, maka ini adalah awal hancurnya kebudayaan asli yang lebih lama ada sebelum budaya luar datang.
“Kalau masyarakat Jepara aja sudah menganggap kentrung dan limbuk lebih rendah mutunya dibanding group band dari tari-tari modern, maka tidak lama lagi kesenian itu akan pelan-pelan hilang juga akan punah,” ungkap pemerhati budaya di Jepara, Khoerul Anam.
Pertimbangan itu, proram TMMD mencoba mencarikan solusi bagaimana menanggulangi kepunahan budaya asli. Akhirnya, diputuskan acara penutupan TMMD (TNI Manunggal Membangun Desa) Reg Ke 97, akan menampilkan kesenian tradisional produk budaya lokal itu. Diharapkan bisa menjadi lokomotip demi mengubah dan memperbaiki anggapan masyarakatnya soal budaya asli. @licom
Autentikasi:
Pendim 0719/Jepara

Post a Comment