Tagop Berpotensi Ganggu Petahana
Maju dalam kontestasi dengan gengsi pertarungan yang besar, tentu sudah diperhitungkan matang-matang oleh Bupati Buru Selatan, Tagop S Soulisa.
Kader PDIP ini sudah mengetahui, jika lawan yang akan dihadapi dalam Pilkada Maluku 2018 nanti bukan lawan biasa. Tagop tentunya sudah mengetahui jika melawan petahana bukan hal yang mudah.
Bupati Bursel 2 periode tersebut sejak dini mesti melakukan konsolidasi dan sosialisasi politik dengan partai politik maupun masyarakat. Tidak hanya itu, Tagop juga harus memiliki visi dan misi yang merakyat dan pendamping yang tepat.
Hal itu diungkapkan Akademisi Universitas Pattimura Ambon, Said Lestaluhu kepada Siwalima, Jumat (29/4).
Ia menilai, tentunya siapapun mempunyai kesempatan untuk maju sebagai bakal calon gubernur maupun bakal calon wakil gubernur.
“Siapapun bisa maju dalam pilkada, apabila memiliki nilai jual untuk bersaing dalam kontestasi Pilkada Maluku yang memiliki gengsi politik yang lebih besar dari pilkada serentak tahap I dan II yang berlangsung di Maluku,” ungkapnya.
Dosen Fisip Unpatti Ambon ini menjelaskan, sebelum dinyatakan lolos sebagai pasangan calon, Tagop mestinya mempersiapkan strategi politik yang matang. Baik berupa konsolidasi, sosialisasi dan memilih pendamping yang tepat.
“Dalam proses tahap Pilkada, sebelum dinyatakan sebagai pasangan calon, saya pikir Tagop tentu sudah punya strategi politik. Sebab, tidak mungkin beliau mau maju tanpa ada strategi politik apapun. Dan yang harus dilakukan sekarang ialah memilih sosok pendamping yang tepat untuk kemudian mensosialisasikan diri kepada masyarakat,” jelasnya.
Lestaluhu mengatakan, dalam memilih figur seorang calon wakil gubernur, Tagop harus mempunyai penilaian dan strategi khusus. Hal ini, bisa dilihat dari beberapa kriteria seperti memiliki nilai jual maupun berdasarkan basis yang besar.
“Figur seorang wakil, sangat menentukan kemenangan pasangan calon gubernur dan wakil gubernur. Untuk itu, Tagop harus punya kriteria tertentu untuk memilih pasangannya. Tagop harus bisa menentukan figur wakil yang mampu mencuri basis dukungan dari lawan-lawan yang dinilai kuat. Misalnya, basis milik petahana. Tagop bisa mengambil wakil yang dinilainya mampu mencuri basis dari Petahana. Tetapi figur wakilnya punya peluang dan nilai jual. Jika ini bisa dilakukan, maka Tagop punya peluang menjadi pesaing berat petahana,” ungkapnya.
Selain itu, katanya, Tagop juga bisa memilih wakil dari basis primordial yang kental dengan kebangkitan etnis seperti masyarakat Maluku Bagian Tenggara, karena dukungan etnisitas ini, akan dengan sendirinya bergerak.
“Strategi yang lainnya yaitu Tagop mesti memilih calon wakil yang berasal dari kabupaten lain, atau wilayah yang memiliki tingkat pemilih yang besar. Seperti pulau Seram, Kota Ambon dan Maluku bagian Tenggara. Pak Tagop kan masih menjadi Bupati Bursel, otomatis beliau harus memilih figur seorang wakil itu dari kabupaten lain. Atau, wilayah lain yang punya jumlah pemilih yang besar, “katanya.
Ia menambahkan, jika semua strategi itu berjalan dengan baik, maka diperkirakan Tagop akan menjadi lawan tangguh atau kuda hitam bagi petahana maupun lawan-lawan lainnya. Ditambah lagi, apabila memiliki perahu politik yang solid, maka bukan tidak mungkin Tagop bisa punya peluang untuk mengalahkan Assagaff.
Sebelumnya, menyangkut siapa figur yang akan mendampingi dirinya sebagai wakil gubernur, Tagop mengaku masih terus membangun komunikasi dengan sejumlah figur yang merupakan putera-putri terbaik asal wilayah Maluku Tenggara.
“Sampai hari ini kalau saya punya keinginan wakil itu menjadi keterwakilan dari saudara-saudara kita di Maluku Tenggara, namun itu tidak menjadi harga mati. Saya yakin masyarakat Maluku Tenggara juga sudah cerdas, pemimpin yang walaupun bukan berasal dari wilayahnya, tapi dia mampu untuk melihat tantangan dan jawaban-jawaban kebutuhan masyarakat disana pasti akan dipilih,” ungkap Tagop kepada wartawan di Kantor Bupati Bursel, Senin (24/4) sore.
Tagop mengaku ingin berdampingan dengan figur yang juga muda. “Saya kira untuk figur wakil gubernur yang muda-mudalah, yang seimbang dengan beta lebih bagus. Yang jelas usia 40-an tahun. Apalagi, saat ini sudah menjadi trend dimana-mana bahwa pemimpin yang dipilih masyarakat di alam demokrasi modern ini ialah figur-figur muda. Di provinsi lain juga kan pemimpin sekarang itu rata-rata orang muda, Maluku kedepan itu harus punya pemimpin yang muda, lebih cakap dan tanggaplah,” katanya.
Sampai saat ini, diwacanakan bakal ada tiga figur nyalon gubernur yaitu petahana Said Assagaff, Inspektur IV Jamwas Kejagung Herman Koedoeboen dan Bupati Bursel Tagop S Soulisa. (S-46)

Post a Comment