Header Ads

Sinode GPM: Momentum Pembebasan dari Dosa

siwalimanews.com
Sinode GPM: Momentum Pembebasan dari Dosa

Ambon - Perayaan Jumat Agung dan Paskah, merupakan pe­ristiwa yang sangat penting bagi umat Kristen di seluruh dunia, ter­masuk di Maluku.

Umat kristen khususnya Gereja Protestan Maluku (GP­M), Jumat (14/4) mera­ya­kan Jumat Agung dan akan menyambut Paskah atau Ke­bangkitan Yesus Kristus pada Minggu (16/4).

Wakil Ketua MPH Sinode GPM , Pendeta Paulus Refialy mengata­kan, Jumat Agung atau ke­matian Yesus Kristus hi­ngga kebangkitan Sang Juru Selamat umat manu­sia nanti, meru­pakan momentum saat Yesus Kristus mengorbankan dirinya untuk me­nebus dosa-dosa umat manusia.

“Jumat Agung merupa­kan peris­tiwa yang sangat penting dan bukan hanya sekedar perjamuan. Tetapi ha­rus dimaknai dengan benar oleh selu­ruh umat Kristen, tentang pe­ngor­banan Yesus Kristus yang rela mati demi menebus dosa-dosa kita,” ung­kap Refialy kepada warta­wan Siwa­lima di kantor Sinode, Kamis (13/4).

Selama ini, kata Refialiy, khu­sus­nya di GPM, Jumat Agung ha­nya diperingati oleh orang dewasa. Jumat Agung hanya dirayakan oleh orang-orang yang sudah diteguh­kan sebagai anggota sidi gereja. Ditahun ini, perayaan Jumat  Agung juga dinikmati oleh anak-anak.

“Hal ini dilakukan supaya mem­berikan arti dan makna kematian Yasus Kristus bagi anak-anak. Siang hari setelah ibadah Perja­muan Kudus, ada ibadah Jumat Agung bagi anak-anak. Ibadah untuk anak-anak itu tidak ada prosesi perjamuan, tetapi ibadah tersebut dikhususkan untuk mengajarkan kepada anak-anak arti Jumat Agung,” jelasnya.

Berselang tiga hari kemudian, umat Kristen akan merayakan peris­tiwa Paskah. Yang mana peristiwa ini merupakan peristiwa pembeba­san. Pembebasan ma­nu­sia dari segala dosa melalui pengorbanan Yesus Kristus di kayu salib.

“Paskah atau kebangkitan ke­bang­kitan kristus, menandakan ke­menangan bagi umat Kristen, sehi­ngga, awal pertumbuhan iman Kris­ten itu ketika peristiwa Paskah atau Yesus Kristus bangkit dari kematian sekaligus momentum pembeba­san manusia dari dosa,” katanya.

Menurutnya, Paskah, bukan ha­nya sekedar menjalankan tradisi, tetapi umat Kristen harus benar-benar memaknai Paskah dalam kehidupan sehari-hari.

“Kita harus benar-benar memak­nai arti dari Paskah yang sesung­guhnya. Umat Kristen harus jadikan Paskah untuk menjalani kehidupan yang baru dan tidak lagi diiringi dosa. Sebab, iman kristen lahir dari Paskah. Itulah sebabnya mengapa Paskah harus benar-benar dimaknai dengan betul,” ungkapnya.

Pendeta Paulus Refialy menje­laskan, perayaan Paskah tahun ini, berbeda dari tahun sebelum­nya. Sebab, umat GPM dihimbau untuk menjalankan betul arti sebuah pe­ristiwa kebangkitan Kristus. Oleh­nya itu, perayaan Paskah akan ber­langsung selama seminggu penuh.

“Paskah tahun berbeda dari tahun sebelumnya. Karena Minggu dan Senin akan ada ibadah Pas­kah. Kemudian Hari Selasa pekan depan ibadah Paskah khusus untuk kaum laki-laki. Kemudian hari Rabu inadah Paskah untuk Kaum perempuan, “lanjutnya.

Berlanjut dihari Kamis, pera­yaan ibadah Paskah akan dilaksa­nakan oleh Pemuda dan Pemudi GPM. Selanjutnya hari Jumat, ibadah Paskah akan berlangsung di Unit-unit sektor pelayanan.

“Selain itu, kita inginkan agar Paskah tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya, agar dirayakan lebih meriah dan dimaknai dengan benar. Terutama untuk mempraktekan arti Paskah di kehidupan sehari-hari. Baik hidup semasa umat kristen, maupun dengan umat beragama lainnya. Yang mana hidup damai dalam cinta kasih terhadap sesama manusia,” jelasnya. (S-46)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.