Header Ads

Warga Mengungsi Saat Hujan

siwalimanews.com
Warga Mengungsi Saat Hujan

Ambon - Talud SMPN 1 Ambon yang nyaris am­bruk membuat warga RT 03/04 Kelurahan Karang Panjang ha­rus mengungsi saat hujan karena takut tertimpa talud.

Talud yang diba­ngun oleh Dinas Pe­kerjaan Umum Pro­vin­si Maluku pasca longsor yang mene­waskan 13 warga Be­lakang Soya, 19 Juni 2012 silam, dikerjakan asal-asalan dan kini mengancam kesela­ma­tan warga sekitar.

“Jika hujan deras tiba, pasti kami warga di sekitar mengungsi karena takut talud ambruk dan menimpa rumah warga,” ujar salah satu warga setempat, Dani Waifitu kepada Siwalima, Rabu (22/3).

Menurutnya, proses pembangu­nan talud ini dilakukan langsung oleh Dinas PU Provinsi Maluku dan rencananya akan dilakukan dalam dua tahap. “Sesuai informasi yang diterima warga disini, yang sudah dilaksana­kan adalah pembangunan talud ta­hap pertama. Ini pun tidak sesuai de­ngan hasil rapat dengan warga se­belum proses pembangu­nan,” ungkapnya.

Warga disini, katanya, sempat prostes kepada pemerintah ketika dibangun karena tidak memiliki dasar yang kuat karen talud yang dibangun berdiri tegak.

“Kita sudah protes tetapi peker­jaan tetap dilaksanakan dan kenya­taan ketika hujan warga harus mengungsi dan menerima banjir pasir dan lumpur akibat talud yang bocor,” kata Dani.

Ia menambahkan, sesuai penjela­san pemerintah, proses pembangu­nan talud akan dilakukan dua kali yakni pasca bencana dan kedua dilakukan pada Oktober 2016.

“Namun sampai sekarang tidak ada proses pekerjaan yang dilaku­kan oleh Dinas PU Maluku “Namun dan kondisi talud sudah semakin membahayakan warga di sekitar karena nyaris ambruk,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Kepala SMPN 1 Ambon Mouritz Werma­su­bun juga mengaku ada dua ruangan milik sekolah yang tidak bisa digunakan.

“Kita punya ruangan praktek komputer sudah tergantung karena dibelakang sekolah ada semacam kawah yang sewaktu-waktu bisa runtuh,” kata Wermasubun.

Ia mengaku sudah beberapa kali melakukan pendekatan dengan pemprov karena ketika hujan para siswa terpaksa diliburkan.

“Kita harus liburkan karena resi­ko­nya sangat besar, kalau terjadi apa-apa siapa yang harus bertang­gung jawab,” ungkapnya.

Wermasubun mendesak pemprov untuk segera melakukan perbaikan karena talud yang ada ini tinggal menunggu waktu untuk ambruk.

Di tempat terpisah Lurah Karang Panjang M. Rosely mengaku sudah beberapa kali melakukan koordinasi dengan Dinas PU Provinsi Maluku namun tidak ada kejelasan.

“Kita sudah berulang kali meminta Dinas PU Provinsi Maluku untuk segera memperbaiki namun sampai kini tidak pernah teralisasi,” kesalnya.  

Ditambahkan setiap kali hujan warganya terpaksa harus meng­ungsi ke gedung SKB milik Pemkot dengan harapan ada perhatian pe­merintah tetapi kenyataan nihil.

Sementara itu, Kepala Dinas Per­mukiman Kasrul Selang mengaku proyek pembangunan talud tersebut menjadi tanggung jawab dari Bidang Pengembangan Permukiman dan Tata Bangunan yang dipimpinnya saat masih bergabung dengan Dinas PU Maluku.

Walau begitu, Kasrul belum dapat menjelaskan secara detail menyang­kut proyek dimaksud karena se­mentara berada di luar kota.

“Ini memang proyek saat saya masih memimpin Bidang Pengemba­ngan Permukiman dan Tata Bangunan di Dinas PU Maluku. Kini setelah men­jadi Dinas Permukiman, juga masih menjadi tanggung jawab saya. Namun karena saya sementara berada diluar kota dan datanya ada di kantor, sehi­ngga saya belum dapat memberikan penjelasan detail saat ini,” ungkapnya.

Sebelumnya, DPRD Kota Ambon sudah meninjau kondisi talud terse­but, apalagi saat ini SMPN 1 Ambon sementara mempersiapkan sarana dan prasarana penunjang menjelang Ujian Nasional. Sementara disisi lain, me­ma­suki musim penghujaan saat ini, warga di sekitar lokasi semakin was-was dengan kondisi talud tersebut. (S-39)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.