Timses Anies-Sandi: Rembug Reboan momen serap aspirasi, bukan kampanye
Ketua Relawan Anies-Sandi, Boy Bernadi Sadikin menghadiri Rembug Reboan di bilangan Cipinang Bali IV, Cipinang Muara, Jatinegara, Jakarta Timur, Rabu (29/3/2017) malam. Foto: Endang-lensaindonesia.comLENSAINDONESIA.COM: Tim Pemenangan pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan-Sandiaga Salahuddin Uno, kembali menggelar Rembug Reboan, Rabu (29/3/2017) malam.
Ketua Relawan Anies-Sandi, Boy Bernadi Sadikin, berkesempatan hadir pada Rembug Reboan yang digelar di bilangan Cipinang Bali IV, Cipinang Muara, Jatinegara, Jakarta Timur tersebut.
Awalnya, pemandu acara memberikan kesempatan kepada Ketua RW 013 Cipinang Muara, Marullah, untuk memberikan sambutan.
Kepada warga dan tokoh masyarakat setempat yang hadir, Marullah menyampaikan apresiasinya atas kegiatan yang rutin diadakan tiap sepekan sekali itu.
“Saya mendukung apa yang dikerjakan demi kebaikan bangsa. Apalagi, sesama muslim, wajib mendukung,” ujarnya kepada peserta, termasuk kepada Jaringan Santri Indonesia (JSI), salah satu simpul pro AHY-Sylviana Murni, beberapa saat lalu.
Namun, Marullah enggan berbicara panjan lebar. Terlebih, menyinggung soal politik. Membahas soal pemilihan kepala daerah (pilkad) misalnya.
Alasannya, khawatir dilaporkan tim hukum petahana, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat, ke pihak berwajib, sebagaimana yang menimpa ketua RT 003 RW 010 Pondok Bambu, Jakarta Timur, lantaran mengimbau warganya menghadiri peresmian posko pemenangan Anies-Sandi.
Kendati demikian, Marullah sangat berharap, “Pertemuan malam ini hadirkan yang kita inginkan dan diridai Allah,” tandasnya.
Pada kesempatan selanjutnya, giliran Boy Sadikin menyampaikan sambutannya. Dia menegaskan, tidak ada agenda kampange dalam Rembug Reboan.
“Tapi, cari masukan. Bahas apa yang dihadapi. Misal, di seberang sana, (isu yang muncul) KJP hilang kalau Anies-Sandi yang menang. Nah, ini kita klarifikasi,” beber eks ketua DPD Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) DKI itu.
Rembug Reboan, imbuhnya, adalah momentum serap aspirasi masyarakat. Karenanya, diharapkan keaktifan warga yang hadir untuk bertanya. “Ada dialog diantara kita. Kalau ada pertanyaan, silakan,” kata putra sulung Gubernur DKI era 1966/1977, Ali Sadikin, ini.
Kemudian, Sekretaris Relawan Anies-Sandi, Denny Iskandar, angkat bicara dan menyinggung soal peran dan fungsi pengurus RT/RW.
Dia membenarkan, jika kehadiran pengurus RT/RW untuk membantu roda pemerintahan. Contohnya, mengurus dokumen administrasi kependudukan.
“Tapi, belakangan, kan tugas RT/RW diamputasi di Jakarta. Bapak RT/RW sudah enggak buat lagi surat pengantar. Padahal, amanat Undang-undang Kependudukan, jelas bunyinya begitu,” ungkapnya.
Meski turut membantu pemerintah, sambung eks aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) itu, tak berarti pengurus RT/RW menjadi aparatur pemerintahan.
“Kan bapak RT/RW dipilih warganya. Bantu pemerintah juga sebagai mata dan telinga, bukan untuk mata-matai dan telinga-telingai warganya,” paparnya kepada sekira 50 peserta Rembug Reboan.
Bagi Denny, sikap tim hukum Ahok-Djarot mengadukan pengurus RT/RW merupakan bentuk tekanan. “Saya lihat sebagai pressure, karena sekarang ini, kan pengurus RT/RW kelihatan menyatu dan enggak berpihak di kubu sana,” tutup politikus PDI-P itu.@dg

Post a Comment