Header Ads

Ibu Patmi tewas di depan Istana Negara, hari ini GMNI demo kediaman Gubernur Jateng

LensaIndonesia.com
Ibu Patmi tewas di depan Istana Negara, hari ini GMNI demo kediaman Gubernur Jateng
Aksi "Dipasung Semen 2" di depan Istana Negara, Jakarta, Selasa (21/03/2017). Foto: Istimewa

LENSAINDONESIA.COM: Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) 1954 akan menggelar bereaksi keras atas tewasnya Ibu Patmi dalam aksi “Dipasung Semen 2” di depan Istana Negara, Jakarta, Selasa (21/03/2017).

Atas peristiwa tersebut, GMNI akan menggelar aksi bersar-besaran di sejumlah titik pada hari Rabu (23/03/2017) hari ini.

Sekretaris Jendral Pengurus Pusat Badan Formatur GMNI 1954, Charis Subarcha mengatakan, sejumlah titik sasaran tersebut diantaranya, kediaman Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Kantor DPP Persatuan Alumni  GMNI serta Kantor  Gubernur  Jateng.

Charis mengatakan, Gubernur Jateng menjadi sasaran demo sebab sebagai alumni GMNI ia dinilai telah mengkhianati dan melupakan ajaran Bung Karno, yaitu Marhaenisme.

“Ganjar Pranowo dan Jokowi (Joko Widodo) adalah alumni GMNI. Alih-Alih memperjuangkan rakyat  Marhaen,  Ganjar  dan  Jokowi tidak mampu menunjukan keberpihakannya terhadap kaum  Marhaen. Justru malah menindas dan menyengsarakan kaum marhaen sendiri. Ini membuat GMNI merasa tercoreng. Seluruh kelompok Nasionalis yang berideologi Marhaenisme merasa dibuat malu. Kita perlu belajar dari militansi Almarhum Ibu Patmi atas kegigihannya melawan penindasan. Maka dari itu GMNI 1954 akan bergerak,” tandasnya dalam keterangan pers yang diterima LICOM di Surabaya, Selasa malam.

Charis mengatakan, atas insiden yang menimpa Ibu Patmi itu, GMNI 1945 menyatakan sikap:

1. Mengintruksikan  seluruh Kader GMNI dan DPC GMNI se-Indonesia untuk menggelar aksi dengan titik sasaran: a). Kediaman Gubernur Jawa Tengah, b). Kantor DPP Persatuan Alumni  GMNI, c). Kantor Gubernur  Jawa Tengah dan  Kantor di kota-kota masing-masing pada tanggal 23 Maret 2017 yang merupakan hari jadi GMNI ke- 63 sebagai bentuk keberpihakannya  kepada kaum marhaen.

2. Mencopot Ganjar Pranowo dan Jokowi sebagai seorang Marhaenis dan Alumni GMNI karena tidak mampu menunjukan keberpihakannya kepada kaum Marhaen serta tidak mampu menerapkan Marhaenisme atau Trisakti.

3.Menuntut Pemerintah Pusat dan Daerah Jawa Tengah untuk mencabut dan memberhentikan PT Semen Indonesia di Bumi Rembang dan Pegunungan Kendeng.

4.Menunut Pemerintah Pusat dan Daerah untuk konsisten menerapkan Reforma Agraria, Trisakti serta mewujudkan Sosialisme Indonesia sebagai jalan sejati pembebasan kaum Marhaen

5.Mengintruksikan kepada seluruh Kader GMNI dan DPC GMNI se-Indonesia untuk terlibat dalam gerakan rakyat yang berjuang mempertahankan tanah air dari cengkraman koorporasi.

Charis menyatakan, sebagai wujud simpati terhadap perjuangan Ibu Patmi, GMNI 1945 akan terus mendesak agar PT Semen Indonesia angkat kaki dari Pegunungan Kendeng.

“PT Semen Indonesia harus angkat kaki dari Pegunungan Kendeng,” tandas aktivis GMNI Surabaya ini.@LI-13

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.