Header Ads

DPRD akan Tinjau RSUD

siwalimanews.com
DPRD akan Tinjau RSUD

Ambon - Komisi D DPRD Maluku akan meninjau RSUD Haulussy hari ini Rabu (22/3). Pengawasan dilakukan menyusul meninggalnya salah satu pasien akibat padamnya aliran listrik di RS milik pemprov tersebut.

Pasien cuci darah rutin di rumah sakit tersebut, Roger Saimima Kamis (16/3) meninggal akibat kelalaian pihak rumah sakit yang tidak siap siaga saat listrik padam.

Pasien yang hampir melakukan cuci darah lebih dari 100 kali tersebut, Kamis (16/3) malam, sementara men­jalani proses cuci darah. Sayangnya saat proses hampir selesai, tepatnya 7 menit menjelang usai, ternyata listrik padam. Akibatnya pasien pun langsung meninggal.

Kabarnya pasca kejadian terse­but, tak ada pemberitahuan dari dok­ter yang menangani kepada ke­luarga korban.

Keluarga korban pun menyesal­kan tidak adanya sinergitas antara pemprov, RSUD Haulussy dan PLN untuk dapat menghadirkan pelaya­nan yang jauh lebih baik.

Menyikapi hal itu, Ketua Komisi D DPRD Maluku, Saadia Uluputty mengatakan, pengawasan di RSUD tujuannya untuk melihat secara langsung manajemen RSUD Hau­lussy. Baik itu berupa pelayanan kesehatan kepada masyarakat mau­pun sumber daya manusia yang ada di RSUD itu sendiri.

“Kita akan turun ke RSUD untuk melakukan pengawasan,” ujar Ulu­putty kepada Siwalima di Baileo Rak­yat Karang Panjang, Selasa (21/3).

Selain pengawasan, menurutnya, komisi juga akan membahas terkait beberapa kasus terkait dugaan pe­ngabaian hal-hal teknis yang ber­hubungan langsung dengan pela­yanan kepada pasien, misalnya terjadi pemadaman lampu ketika pasien sementara cuci darah dan operasi, yang berujung pada ada yang meninggal dunia.

“Ada informasi seperti itu, tiba-tiba terjadi pemadaman lampu di­saat-saat genting. Hal itu sebenatnya tidak boleh terjadi, tetapi faktanya memang sering terjadi di RSUD Haulussy,” ungkapnya.

Politisi PKS itu menjelaskan, tahun lalu pada saat pembahasan anggaran, Komisi D sudah mene­kankan agar pihak RSUD memprio­ritaskan untuk pengadaan generator listrik, karena sangat penting dan berhubungan dengan pelayanan kepada pasien.

“Kita sudah tekankan untuk mem­beli generator, karena berhubungan langsung dengan alat-alat medis yang sensitif pada saat kondisi darurat,” ujarnya.

Dikatakan, jika ada dana kali ini untuk dianggarkan atau dialokasi­kan ke RSU Haulussy, maka DPRD kembali akan mendesak supaya pe­ngadaan generator listrik secepat­nya terealisasi. Saadia mengha­rap­kan agar dalam pengawasan nanti dilakukan pembenahan terhadap manajemen RSUD.

“Kita harapkan agar ada peruba­han di RSUD. Dari manajemen, baik berupa pelayanan kepada pasien maupun langkah-langkah medis yang harus memprioritaskan kinerja dari segalanya. Begitu juga dengan SDM RSUD juga harus diting­katkan,” katanya.

Sebelumnya diberitakan, Pendeta Rico Rikumahu, keluarga korban mengatakan, saat saudarannya se­men­tara cuci darah, terjadi pema­daman listrik sebanyak tiga kali dan saat listrik padam untuk yang ketiga kalinya, saudaranya meninggal.

“Saya tidak mempermasalahkan pihak rumah sakit. Akan tetapi tidak bisakah, rumah sakit berplat merah milik pemerintah daerah memberikan pelayanan yang jauh lebih baik? Lampu padam 3 kali, dan bukan hanya saudara kami yang sementara cuci darah yang merasakan, tetapi seluruh pasien yang di rumah sakit ke­luhkan hal yang sama. Kami sa­ngat sesalkan tidak ada sinergitas antara pemerintah, rumah sakit dan PLN. Kan bisa ada koordinasi agar bisa menyediakan pasokan listrik le­bih lewat generator,” jelas Riku­mahu kepada Siwalima melalui telepon selulernya, Senin (20/3).

Rikamahu mempertanyakan, ala­san hingga di rumah sakit sebesar itu tidak ada generator. Ia menilai apabila ada generator pasti seluruh pasien akan merasa nyaman, dan tidak resah saat listrik padam.

“Yang kami sesalkan mengapa saat listrik padam tidak ada generator otomatis. Seharusnya pelayanan itu kan diutamakan. Ini bukan ma­salah kita saja, tetapi masalah orang banyak yang berobat di situ,” katanya.

Menurutnya, keluarga sudah pas­rah menerima kepergiaan saudaranya, akan tetapi ia berharap agar ada per­hatian khusus dari pemerintah, se­tidaknya ada penyediaan genset otomatis, atau ada petugas khusus yang menangani listrik, sehingga tidak terjadi keresahan lagi.

“Kami sudah menerima keper­giaan saudara kami. Kami akui me­mang dokter sudah beritahukan kalau saudara kami juga ada sakit jantung. Akan tetapi kami masih me­rasa tidak nyaman dengan padamnya listrik sampai tiga kali saat cuci da­rah. Semoga kedepannya pemerintah bisa bersinergi dengan PLN dan RSUD agar tidak lagi terjadi hal seperti ini. Setidaknya ada genset, itu saja,” ungkapnya.

Penjelasan RSUD

Sementara itu, kepada Siwalima di ruang kerjanya, Senin (20/3), Wakil Direktur Bidang Pelayanan dan Keperawatan RSUD Haulussy, Ita Sabrina menjelaskan pasien Saimima meninggal bukan dikarenakan mesin yang tiba-tiba terhenti akibat padam­nya listrik, akan tetapi yang ber­sangkutan meninggal karena ada kemungkinan penyakit lainnya yang diderita pasien.

“Saya sudah mendengar hal terse­but. Pasien yang meninggal ini sudah cuci darah lebih dari 100 kali, dia juga bukan hanya sakit ginjal saja tetapi ada sakit lainnya juga,” katanya.

Secara teknis menurut Sabrina, mesin yang berhenti mendadak tidak akan langsung membuat pasien me­ni­nggal. Untuk menghadapi mesin yang berhenti saat cuci darah jelas­nya, ada dua opsi yang harus dipilih oleh dokter yang menangani, yakni manual atau menggunakan generator listrik.

Untuk pasien Saimima, menurut Sabrina, saat mesin berhenti, dokter sudah berupaya mencuci darah dengan cara manual.

“Jika prosesnya sementara dan listrik padam maka tidak langsung pasien meninggal. Ada upaya ma­nual yang dilakukan oleh dokter. Upaya itu sudah dilakukan oleh dok­ter yang menangani pasien saat itu. Saat listrik padam, mesin tak ber­fungsi, dokter langsung melakukan langkah manual. Tetapi pasien tidak tertolong,” ungkapnya.

Pihak dokter yang menangani pasien saat itu, kata Sabrina, sudah lang­sung memberitahukan hal ter­sebut kepada keluarga pasien. Saat itu, katanya, keluarga pasien mene­rima apa yang terjadi pada anggota keluarganya tersebut.

“Sudah dijelaskan ke pihak keluarga, dan mereka menerima. Sampai sekarang tidak ada aduan dari keluarga. Beliau bukan hanya sakit ginjal kan, tetapi ada sakit lain juga. Serangan jantung mendadak juga bisa memicu pasien meninggal saat itu juga,” jelas Sabrina. (S-46)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.