Dokter RSUD Saparua Akhirnya Ditemukan Tewas
Ambon - Setelah sebelumnya dikabarkan hilang Rabu (8/3) di Pantai Dusun Pia, Kecamatan Saparua Timur Kabupaten Malteng kini Fernando Glen Thendean (26), dokter internship RSUD Saparua akhirnya ditemukan tewas di dasar laut.
Korban ditemukan tewas setelah pencarian dilakukan Kamis (9/3) subuh, setelah sebelumnya dilakukan ritual adat. Korban ditemukan sekitar pukul 08.15 WIT pertama kali oleh warga Dusun Pia, Daniel Likikuitil.
Kapolsek Saparua, AKP Markus Sallo ketika dikonfirmasi menjelaskan, Likikuitil ini tak sendiri, ia bersama beberapa warga Pia lainnya melakukan pencarian terhadap korban dan akhirnya ditemukan di dasar laut dengan kedalaman sekitar 15 meter.
“Korban telah ditemukan oleh penyelam masyarakat Pia pada kedalaman sekitar 15 meter, korban yang sudah dalam keadaan tidak bernyawa lagi, bergotong royong dievakuasi dari dasar laut dan meletakkan ke dalam ketinting yang digunakan untuk melakukan pencarian kemudian di evakuasi ke darat,” jelas Kapolsek.
Setelah didarat, korban kemudian didoakan dan pada pukul 09.05 WIT, korban di bawa ke RSUD Saparua untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut oleh tim dokter yang di pimpin oleh dokter Handri Huwae.
“Saat ditemukan korban masih memakai pakaian selam warna hitam, masker kaca mata selam berwarna biru putih, sabuk pemberat timah yang di gantung pada bagian pingang korban serta kaki katak,” jelas Kapolsek.
Kapolsek juga menambahkan, tidak ada tanda kekerasan di tubuh korban atau tanda lainnya yang mencurigakan. Korban diduga meninggal lantaran kehabisan oksigen saat sedang menyelam untuk memanah ikan di pantai Pia tersebut.
Kapolsek juga menjelaskan, sesuai keterangan Billy Takaria (24) Satpam RSUD Saparua, Herman Lera (35) perawat RSUD Saparua, Yanny Sopaheluwakan (35) Satpam RSUD Saparua, saat pukul 16.00 Wit para saksi bersama korban menggunakan perahu menuju perairan laut depan petuanan Dusun Pia, sekitar satu kilometer dari daratan untuk melakukan kegiatan menyelam untuk memanah ikan.
Korban melakukan penyelaman agak terpisah sekitar 40 meter, kemudian korban sempat ditegur oleh rekan-rekannya bahwa terlalu jauh karena mengingat arus air yang sangat kencang. Namun tak dihiraukan oleh korban.
Beberapa saat kemudian korban sempat naik ke permukaan air, namun tak lama kemudian korban tidak lagi muncul ke permukaan sehingga menimbulkan kecurigaan rekan-rekannya. Salah satu rekan kemudian menarik tali pelampung tersebut dan melihat korban sudah tidak bersama alat panah yang digunaka. Rekannya hanya mendapati alat Panah dan satu ekor ikan yang berada pada busur panah tersebut.
Melihat hal tersebut rekan-rekannya melakukan penyelaman untuk mencari korban dan menyampaikan ke pemerintah Dusun Pia pukul 17.00 wit serta Bhabinkamtibmas Dusun Pia Brigpol Josi Palijama bersama Kepala Dusun Pia dan masyarakat setempat.
“Setelah disampaikan dan kami dari Polsek juga disampaikan hal itu langsung ke TKP dan sekitar 200 orang melakukan pencarian di laut depan dusun pia dengan menggunakan 10 ketinting dan 15 perahu. Namun hingga larut malam korban tidak ditemukan,” jelas mantan Kapolsek Baguala.
Jenazah Kamis (9/3) sore telah dibawa dari Saparua menuju Ambon, guna selanjutnya dibawa pulang ke rumah duka di Manado, Sulawesi Utara. (S-27)

Post a Comment