Di Sanggau Ada Ritual Nyeser Pengusir Hantu
SANGGAU- Suku Dayak Taba Syam di Desa Temiang Taba, Kecamatan Balai Batang Tarang hingga saat ini masih melestarikan tradisi Nyeser di kehidupan keseharian mereka. Neyeser adalah ritual pengusir mahluk jahat yang mengganggu petani dengan cara memberi persembahan berupa sebagian kecil dari hasil panen. Biasanya hasil panen yang di persembahkan itu adalah padi dan buah-buahan yang diletakan di atas perahu kecil yang kemudian di larungkan ke sungai, yaitu sungai Tayan yang tak jauh dari Dusun Syam.
Saat ritual berlangsung, masyarakat setempat ikut menyertakan Amot. Amot merupakan penggambaran sosok mahluk yang jahat pengganggu hasil panen. Amot ini digambarkan dalam sebuah topeng berwarna hitam dengan lidah menjulur dan mata melotot. Mahluk tersebutlah yang di usir dengan syarat perahu yang di beri sesajen agar roh jahat ikut juga hanyut bersama dengan perahu lanting kecil tersebut. Ritual ini dilaksanakan masyarakat setempat tiga tahun sekali.
“Peninggalan para leluhur ini tidak boleh kita sia-siakan, karena ini adalah identitas suatu wilayah, suatu suku yang harus kita jaga dan pelihara. Seperti apapun modelnya, dengan perkembangan jaman, ini tentu ada perbaikan tampilan tapi tidak boleh meningalkan budaya aslinya,” kata Wakil Bupati Sanggau, Yohanes Ontot saat menghadiri acara ritual Nyeser di Dusun Syam Desa Temiang Taba, belum lama ini.
Masih kuatnya masyarakat mempertahankan tradisi Nyeser tersebut, diapresiasi oleh Pemerintah Daerah.
“Dengan mempertahankan tradisi seperti ini, masyarakat disini luar biasa dan sangat menghargai warisan budaya leluhur. Kalau ritual ini kita kemas dengan baik, tentu bisa menjadi potensi pariwisata. Saya harap ini dipertahankan dan dikemas lebih baik lagi supaya bisa kita perkenalkan ke masyarakat di luar sana. Ciri khas ritual Nyeser itu Amot ini, orang pasti akan tertarik untuk melihat Amot,” kata Ontot.
Dikesempatan ini, Yohanes Ontot juga mengigatkan masyarakat sanggau seluruhnya untuk tetap menjaga ekosistem lingkungan. Ontot yang juga Ketua Dewan Adat Dayak Kabupaten Sanggau ini mengharapkan, masyarakat mengurangi penggunaan zat kimia untuk bercocok tanam.
“Alam adalah sahabat yang tidak terpisahkan bagi suku Dayak, karena itu alam ini harus kita jaga dan pelihara, walaupun kita sekarang sudah di landa demam kebun sawit, pertambangan dan sebagainya. Sesama ciptaan Tuhan tidak boleh saling merusak, contoh yang sekarang ini seperti pertambangan emas dengan merusak ekosistem, penggunaan alat canggih yang menyebabkan limbah dan rusaknya sumber air bersih. Ini tidak boleh diteruskan, harus dihentikan,” ajaknya.
(Abang Indra)

Post a Comment