Header Ads

Presdir Manulife: Investor tak tahu bagaimana cara maksimalkan kekayaan

LensaIndonesia.com
Presdir Manulife: Investor tak tahu bagaimana cara maksimalkan kekayaan
presdir manulifeLegowo Kusumonegoro Presdir PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (kiri).

LENSAINDONESIA.COM: Hasil survei Manulife terhadap investor di Indonesia, juga mengungkapkan bagaimana sebagian investor masih salah memahami produk investasi dan potensi keuntungannya. Akibatnya, mereka kehilangan kesempatan untuk memaksimalkan kekayaan.

“Hampir semua investor (94%) masih beranggapan bahwa tabungan dan deposito adalah
produk investasi,” demikian keterangan pers hasil survei Manulife sebagaimana disampaikan Jeane Carolina dari PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia kepada LICOM, Selasa (21/2/2017).

Survei juga menyebut keengganan investor dalam mengambil risiko juga turut membatasi kemampuan mereka untuk mengumpulkan kekayaan. Hampir tiga perempat (74%) dari investor Indonesia lebih memilih investasi yang berisiko rendah.

Hal ini terlihat dari menguatnya sentimen terhadap dana tunai yang meningkat, dari 71% di Q4 2015 menjadi 88% di tahun 2016. Dengan menempatkan mayoritas (60%) dana pensiunnya di produk non-investasi yang menawarkan risiko rendah, namun memberikan imbal hasil yang rendah. Sebagian besar investor (65%) merasa yakin bahwa mereka cukup melakukan diversifikasi portofolio.

Legowo Kusumonegoro, Presiden Direktur PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, mengatakan, “Setiap investor berhak mendapatkan imbal hasil dari simpanan hasil jerih payahnya. Investasi pada saham dan obligasi sering kali memberikan imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan tabungan,” tukasnya.

“Bagi investor yang tidak mengetahui bagaimana cara mengakses produk investasi tersebut, mereka harus mencari bantuan dari ahlinya. Khusus untuk investor muda, mereka harus mencari bantuan dari sumber yang terpercaya untuk memastikan bahwa mereka membuat
pilihan yang terbaik untuk jangka panjang,” tambah Presdir Legowo Kusmonegoro.

BERHARAP POTENSI IMBAL HASIL BERLEBIHAN
Survei MISI juga mengungkap bahwa investor di Indonesia terus mengharapkan imbal hasil investasi yang tinggi. Tahun lalu, para investor mengharapkan imbal hasil rata-rata sebesar 11,6% untuk tahun 2017.

Legowo mengatakan, ”Para investor harus lebih realistis dalam mengharapkan tingkat imbal hasil yang bisa mereka dapatkan dalam waktu satu tahun.”

Menurut Legowo, dengan menyimpan sebagian besar kekayaannya dalam bentuk tabungan
dan deposito jangka panjang, hampir bisa dipastikan bahwa mereka akan kesulitan untuk mencapai imbal hasil yang diharapkan.

“Jika mereka mau mengambil risiko yang lebih tinggi dan mengalokasikan sebagian kekayaannya pada produk seperti reksa dana saham dan reksa dana pendapatan tetap, mereka akan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk mendapatkan imbal hasil investasi yang sesuai dengan harapan,” jelas Legowo.

Pada tahun 2016, lanjut dia, IHSG mencatat imbal hasil investasi sebesar +15,32%,  sedangkan obligasi memberikan imbal hasil investasi sebesar +14,03%.

Legowo juga menngingatkan, “Para investor harus membuat portofolio pensiun yang tepat bagi diri mereka. Tidak ada rumusan komposisi portofolio pensiun yang baku.”

Setiap orang, menurut Legowo, memiliki tingkat toleransi risiko dan harapan imbal hasil yang berbeda-beda. “Melakukan konsultasi dengan ahli keuangan dan memiliki perencanaan masa depan merupakan salah satu cara yang akan menguntungkan investor, terlepas dari apapun tujuan pensiunnya,” pungkasnya. @licom_03

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.