Pelabuhan ikan di Jatim bakal berstandar internasional
Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Jatim Heru Tjahjono. Foto: Sarifa-lensaindonesiaLENSAINDONESIA.COM: Dinas Perikanan dan Kelautan Jawa Timur melakukan pengembangan pelabuhan perikanan berstandar internasional di Jatim. Untuk keperluan itu, Pemprov Jatim mengalokasikan anggaran khusus sebesar Rp 240 miliar untuk pengembangan dan pembangunan pelabuhan perikanan baru di Jatim.
“Angka Rp 240 miliar itu terdiri anggaran untuk pengembangan pelabuhan sebesar Rp 190 miliar dan pembangunan pelabuhan baru sebesar Rp 50 miliar. Pelabuhan baru itu Popoh Tulungagung dan Grajagan Banyuwangi,” kata Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Jatim Heru Tjahjono, Selasa (14/2/2017).
Ada beberapa pelabuhan perikanan yang dikembangkan agar berstandar internasional sesuai permintaan Uni Eropa. Yakni, Pelabuhan Muncar Banyuwangi, Tamperan Pacitan, Tambak Rejo Blitar, Bulu Tuban, Mayangan Probolinggo, Pasongsongan Madura, Pelabuhan Paiton dan Pondok Dadap Blitar.
Menurut dia, anggaran sebesar Rp 240 miliar diakui memang tidak bisa menuntaskan keseluruhan pembangunan. “Ini akan diselesaikan secara bertahap. Pelabuhan sudah dibangun sejak 2008 dan 2010. Pelabuhan itu akan diperbaiki sesuai standar internasional. Kalau mau ideal, satu pelabuhan butuh anggaran perbaikan sebesar Rp 150 miliar,” jelasnya.
Sementara, terkait perbaikan fasilitas di pelabuhan perikanan itu meliputi gedung pengepakan ikan, pengadaan cold storage, rumah singgah nelayan, kantor pelabuhan itu sendiri dan pasar ikan. Nantinya akan didesain selain pelabuhan itu sendiri, juga bisa menjadi destinasi wisata.
Ada 11 pelabuhan besar di Jatim. Dari jumlah itu, yang sudah memenuhi standar adalah Pelabuhan Muncar Banyuwangi, Tamperan Pacitan, Tambak Rejo Blitar, Bulu Tuban, Mayangan Probolinggo dan Pondok Dadap Blitar. Sisanya masih dalam proses pembenahan.
Ditambahkan Heru, ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi untuk menjadikan pelabuhan berstandar internasional. Salah satunya untuk Tempat Pelelangan Ikan (TPI) lantainya harus bersih, alat angkut keranjang dari plastik standar Uni Eropa, ada cold storage, kelengkapan nelayan dan airnya bersih.
Lebih lanjut, terkait produksi ikan di Jatim terdiri dari ikan tangkap dan ikan budidaya. Produksi ikan tangkap sebesar 363 ribu ton per tahun pada 2016 dan ditarget 417 ribu ton pada tahun 2017. Sedangkan untuk ikan budidaya, produksinya mencapai sebesar 973 ribu ton ikan pada 2016 dan ditarget 1,1 juta ton pada 2017.
“Pada musim paceklik (cuaca buruk dan nelayan tidak melaut) seperti saat ini dari September 2016 sampai Februari 2017, nelayan akan dibantu pelatihan untuk mengolah ikan menjadi bakso, nugget, siomay dan abon. Ini namanya program diversifikasi produk ikan saat musim paceklik. Ikan ketika harga tidak bagus bisa diolah. Kalau memasuki bulan Maret-Agustus baru memasuki musim ikan,” pungkasnya.@sarifa

Post a Comment