Header Ads

Takjub! 8 Alutsista ‘pamungkas’-nya Cina paling ditakuti Amerika Serikat

LensaIndonesia.com
Takjub! 8 Alutsista ‘pamungkas’-nya Cina paling ditakuti Amerika Serikat
cina-roketRoket Hipersonik WU-14 ini karakternya misterius dan tidak banyak yang diketahui, kecuali berkecepatan 12.000km/jam dan mampu membawa hulu ledak nuklir. @foto:istimewa

LENSAIDNONESIA.COM: Dunia semakin dicenungkan kekhawatiran dua kekuatan adidaya dunia, AS dan Cina, akan terlibat perang terbuka. Meski diyakini kedua negara raksasa tidak akan mengorbankan perdamaian global, namun berkembang kalkulasi militer kenapa Washington harus waspada kekuatan Cina.

Berikut ini delapan kekuatan militer menakjubkan yang dimiliki Cina dan menjadi sorotan prioritas Amerika Serikat.

Pesawat Tempur Chengdu J-20
Chengdu J-20 merupakan rival terbesar F-22 Raptor milik AS. Kedua pesawat ini bersaing teknologi memiliki daya jelajah tinggi, berkemampuan terbang siluman alias tidak terdeteksi radar. Walaupun baru tahap pengembangan, J-20 diperhitungkan memberikan keunggulan zona udara bagi militer Cina di Laut Cina Selatan.

cina-pesawat

Dong-Feng 26
Kapal-kapal induk yang dimiliki Amerika Serikat, diyakini tidak satu pun dapat menghadapi peluru kendali yang satu ini. Dong-Feng (DF) 26 dikembangkan Cina sebagai rudal antar benua dan dapat melesat berkecepatan Mach 10. Bahkan sebelumnya, DF-21
ini oleh militer AS dianggap sebagai “pembunuh kapal induk”. Peluru kendali ini berdaya jelajah 4000 km, dan punya kemampuan menyerang pangkalan militer AS di Guam.

cina-tank

Roket Hipersonik WU-14
Beberapa tahun belakangan, Cina serius mengembangkan senjata hypersonic mengimbangi X-51A (gambar) yang dimiliki militer AS. Militer Cina membuktik dalam empat uji coba antara 2014-2015. Menakjubkan, tiga diantaranya berjalan sukses. Sengaja dibuat misterius WU-14 atau Dong-Feng DZ ini. Kalau pun ada yang
tahu karakter pesawat ini, itu pun sebatas kapasitan kecepatannya 12.000km/jam, dan dapat mengakut hulu ledak nuklir.

cina-roket

Kapal Induk Liaoning
Mencengangkan. Liaoning ini merupakan kapal induk Uni Sovyet kelas Admiral Kuznetsov, awalnya dibeli Cina dengan dalih untuk dijadikan tempat perjudian seorang pengusaha Macau. Ukraina sempat melarang kapalnya dipakai untuk keperluan militer.

Faktanya, kapal bernama awal Warjag itu justru dijadikan kapal induk pertama Cina. Pasca sukses meriset teknologi Liaoning, kini Cina mengincar kapal induk kedua.

cina-kapal-induk

Tank Tempur Utama T99A2
Tank tempur T99 terbaru ini milik Cina memasuki generasi ketiga. T99 ini dilengkapi berbagai persenjataan dan teknologi modern. Diantaranya, terdapat peluru kendali anti tank yang dipandu laser. Pengembangannya sejak 2007, dan T99A2 mulai diproduksi massal tahun 2009. Analis militer menilai T99A2 banyak meniru desain tank Perancis, Leclerc, atau M1 Abrams milik militer Amerika Serikat.

cina-tank2

Kapal Angkut Amfibi Tipe 071
Cina menjaga wilayah perairan seperti Laut Cina Selatan dipastikan mengandalkan keunggulan peran kapal angkut amfibi. Dan, Cina memiliki tiga jenis kapal amfibi tipe 071. Ketiganya mampu mengangkut satu batalyon pasukan infanteri, 18 kendaraan lapis baja dan dilengkapi dengan ajungan pendaratan untuk helikopter atau juga hoovercraft.

cina-kapal2

Rudal Anti Satelit
Kongres AS pernah ‘warning’ pemerintah AS dalam menyikapi kemampuan Cina menghancurkan satelit militer. Beberapa tahun terakhir, Beijing seperti sibuk memodifikasi sistem peluru kendalinya seperti Dong-Neng 2 atau Dong-Feng 21 untuk membidik satelit.

Perimbangan itu, AS khwatir Cina akan mampu menghancurkan sistem satelit navigasi miliknya yang penting untuk mengumpulkan data intelijen.

cina-kom

PLA Unit 61398
Beberapa tahun terakhir, unit militer yang bermarkas di Pudong, menjadi sumber serangan cyber terhadap aset ekonomi dan militer AS. Cina meyakini kedigdayaan di dunia maya akan menentukan perang masa depan. Serangan cyber terhadap aset sipil seperti pembangkit listrik misalnya akan berakibat fatal. Unit 61398 ditengarai cuma satu dari 20 unit militer cyber yang dimiliki Cina saat ini. @

*sumber: DW Akademie

loading...

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.