Bank Jatim pastikan spin-off UUS jadi BUS tahun ini
Gubernur Jatim Soekarwo saat memimpin RUPS Bank Pembangunan Daerah Tbk (Bank Jatim) Tahun Buku 2016. Foto: Humas Pemprov JatimLENSAINDONESIA.COM: PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk atau Bank Jatim menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahun Buku 2016 di Kantor Pusat Bank Jatim Surabaya, Selasa (31/1/2017).
Ada sejumlah agenda yang dibahas dalam RUPS tersebut, mulai dari persetujuan laporan tahunan perseroan mengenai keadaaan dan jalannya perseroan selama tahun 2016, termasuk laporan pelaksanaan tugas pengawasan dewan komisaris selama tahun buku 2016 dan pengesahan laporan keuangan perseroan tahun buku 2016.
Kemudian penetapan penggunaan laba bersih perseroan tahun buku 2016, termasuk pemberian bonus bagi pegawai serta tantiem untuk direksi dan dewan komisaris.
Lainnya adalah persetujuan rencana pembelian kembali saham (buyback) dalam rangka pelaksanaan Long Term Incentive. Dan yang terbaru, persetujuan perubahan keputusan terkait izin pelaksanaan spin-off (pemisahan) Unit Usaha Syariah (UUS) menjadi Bank Umum Syariah (BUS).
Direktur Utama Bank Jatim R Soeroso mengatakan pemisahan UUS menjadi Bank Umum akan segera dilaksanakan pada tahun 2017 ini. Kepastian spin-off unit syariah ini diketahui setelah izin prinsip ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah rampung beberapa waktu lalu.
Soeroso menuturkan pengembangan bisnis usaha syariah ini sesuai dengan arahan otoritas untuk melakukan pemisahan unit usaha syariah menjadi entitas usaha tersendiri.
Disamping itu, lanjut Soeroso, Bank Jatim Syariah ini nantinya juga akan mendukung penuh kebutuhan pembiayaan Bank Jatim di sektor lainnya. “Nanti dibagi dua pembiayaannya. Jadi kekuatan kita juga akan semakin besar,” ungkapnya.
Ditambahkan, dalam sektor dana pihak ketiga dan pembiayaan, sektor tabungan dan kredit konsumsi Bank Jatim juga masih mendominasi pertumbuhan selama tahun 2016. Tabungan mencatat pertumbuhan 12,61% (yoy) atau sebesar Rp 14,36 triliun. Sedangkan kredit konsumsi tumbuh 8,89% atau sebesar Rp 19,80 triliun.
“Hal ini menunjukkan peningkatan kepercayaan masyarakat khususnya nasbah Bank Jatim. Tercatat selama lebih 14 tahun, CASA rasio selalu berada diatas 65%. Di tahun 2016, CASA rasio menunjukkan 78,12%,” urainya.
Sedangkan dilihat dari rasio keuangan Bank Jatim per Desember 2016 lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Di antaranya Return on Equity (ROE) sebesar 17,82% sebelumnya 16,11%, Net Interest Margin (NIM) sebesar 6,94% dari sebelumnya 6,41%, Return On Asset (ROA) tahun 2015 sebesar 2,67% menjadi 2,98%.
“Terjadi efisiensi pada biaya operasional dibanding pendapatan operasional dari 76,12% menjadi 72,22%,” imbuh Soeroso.
Kinerja keuangan PT Bank Jatim tahun 2016 juga mendapat predikat “Sehat”. Dengan total aset meningkat sebesar 0,54% dari Rp 42,83 triliun menjadi Rp 43,03 triliun. Labanya juga meningkat sebesar 15,13% dari Rp 1,26 triliun menjadi Rp 1,45 triliun. Untuk laba bersihnya juga meningkat 16,09% dari Rp 885,7 miliar menjadi Rp 1,03 triliun.
Sementara, Gubernur Jatim Soekarwo mendorong Bank Pembangunan Daerah (BPD) seperti Bank Jatim ini untuk lebih memainkan perannya sebagai salah satu lokomotif pembangunan ekonomi daerah. Dengan demikian diharapkan BPD lebih inovatif dalam memberikan pelayanan perbankan dan berkontribusi terhadap pencapaian ekonomi daerah.
“Sebanyak 36,49% penduduk Jatim bekerja di bidang pertanian, namun total lending credit perbankan yang diberikan kepada petani hanya 7,6%, karena mereka dianggap tidak bankable. BPD saat ini lebih banyak memberi kredit konsumtif yang lebih aman dari sisi kredit, dibanding kredit sektor produktif. Karenanya PT Bank Jatim harus membuat program pemberian kredit pada pertanian,” tegas Pakde Karwo-sapaan akrab Gubernur Jatim
Dijelaskan, untuk memberi dukungan pada PT Bank Jatim, Pemprov telah memberikan pinjaman anggaran sebesar Rp 400 miliar dari APBD Tahun 2016. Solusi yang diharapkan ialah dengan memberikan pinjaman pada industri primer melalui program loan agreement, dengan skema linkage program kepada BPR milik pemkab/pemkot.
Sampai dengan Desember 2016 realisasi kredit loan agreement baik penyaluran konvensional maupun syariah mencapai 23,62%. Ia mengatakan, BPD saat ini harus ikut fokus dalam pembangunan infrastruktur di Jatim misalnya Tol Legundi, Bunder, Krian, serta pembangunan sekolah-sekolah.
Selain itu, Pakde Karwo yang juga pemilik saham mayoritas Bank Jatim ini tengah mendesain pembiayaan sarana investasi bekerjasama dengan penjaminan infrastruktur Indonesia, seperti yang telah dilakukan oleh RSUD Soetomo Surabaya.
“Saya mengajak kepada seluruh bupati/walikota se-Jatim untuk melakukan pembangunan infrastruktur jangan menggunakan APBD, tapi bekerjasama dengan perbankan, khususnya BPD. Disamping itu harus didukung oleh biaya retribusi online, sehingga bisa dilakukan tracking system,” tutupnya.@sarifa

Post a Comment