PBNU minta kembali ke jati diri bangsa, jangan gunakan medsos sebar perpecahan
Ketua PBNU KH Said Aqil Siradj.@foto:jurnal muslimLENSAINDONESIA.COM: Bangsa Indonesia diminta melihat kembali dan memahami akan sejarah pajang sejarah berdirinya Indonesia.
Dalam diskusi refleksi akhir tahun 2016, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengajak semua pihak kembali ke jati diri bangsa yang mengakui kemajemukan dalam ikatan bingkai Bhinneka Tunggal Ika.
PBNU menilai, Indonesia sebagai bangsa majemuk, plural, multietnis dan multiagama patut disyukuri, dijadikan semangat bersama untuk saling mengisis hal-hal yang terbaik bagi kebaikan bangsa dan negara.
Demikian disampaikan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj dalam acara refleksi akhir tahun di Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (30/12).
“Perbedaan adalah tambahan energi untuk melipatgandakan kekuatan, bukan benih untuk menumbuhkembangkan perpecahan,” ujar Said Aqil.
Selain itu, Said Aqil juga mengingatkan, agar seluruh bangsa terus memegang teguh kesepakatan-kesepakatan dasar bangsa Indonesia yang mencakup Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
“Seluruh ikhtiar mengisi pembangunan harus dijiwai dan diorientasikan untuk memperkuat konsensus nasional, bukan malah untuk mempertajam perbedaan,” ungkapnya.
Selama tahun 2016, menurutnya, telah diwarnai berbagai dinamika politik identitas yang rentan menggerogoti sendi-sendi konsensus nasional, yakni Pancasila. Oleh karenanya, ikatan kemajemukan harus perlu dijaga dan diperkuat agar keutuhan bangsa Indonesia tetap terus terjaga.
Ia pun menyinggung media sosial yang kerap dijadikan ajang untuk menebar informasi yang justru tidak menjelma sebagai ajang membangun opini yang konstruktif, namun justru terlihat sebagai panggung provokasi fitnah dan kebencian.
“Polarisasi tersebut melibatkan penggunaan sentimen SARA untuk tujuan politik yang sesungguhnya berbahaya bagi kelangsungan sendi-sendi konsensus nasional,” paparnya.
Kondisi demikian, lanjut Said, PBNU merasa perlu mengingatkan kembali semua elemen anak bangsa agar tak sampai tercerabut dasar konsensus nasional yang sudah diletakkan dasar-dasarnya oleh para pendiri bangsa.
Selain itu, PBNU juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, yang setia menjaga dan merawat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Namun sebaliknya, jika ada pihak-pihak atau kelompok radikal yang tidak suka atau menginginkan bangsa ini pecah, maka pihaknya pun berharap khususnya aparat keamanan, agar bertindak tegas kepada kelompok yang mengancam keberlangsungan NKRI.
“Pemerintah, khususnya Polri, harus bertindak tegas, jangan menunggu mereka menjadi lebih besar baru mengambil tindakan,” pungkas Said Aqil. @yuanto

Post a Comment