Header Ads

Ironis! Indonesia anggarkan riset dan pengembangan sektor pertanian lebih kecil dari Malaysia

Birokrasi – LensaIndonesia.com
Ironis! Indonesia anggarkan riset dan pengembangan sektor pertanian lebih kecil dari Malaysia
sektor-pertanianAneh. Sektor pertanian di tanah air 'tidak lebih unggul dalam hal ' riset dan pengembangan dibanding Malaysia.

LENSAINDONESIA.COM: Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto berpendat, jika pemerintah mampu membenahi sektor pertanian, maka dipastikan akan bisa mengurai hampir separuh problem pertumbuhan ekonomi domestik.

“Apabila sektor pertanian beres, maka setengah persoalan ekonomi Indonesia beres,” ujar Eko di Jakarta, Kamis (29/12/2016).

Eko menjelaskan, bahwa sektor pertanian saat ini mampu memberi kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) hingga 15 persen dengan serapan tenaga kerja 35 persen dari total tenaga kerja.

Untuk itu, lanjut Eko, pemerintah diharapkan dapat membenahi sektor pertanian, terutama pada holtikultura. Holtikultura dinilai bisa memberikan pendapatan yang cukup untuk petani.

Selain itu, juga diperlukan penggarapan komoditas lain dengan cara klasterisasi antara mana komoditas pertanian untuk ekspor, komoditas dengan keterkaitan tinggi dengan inflasi, dan komoditas yang memberikan dampak besar kepada pendapatan petani.

Klasterisasi tersebut, menurutnya, akan memberikan gambaran penanganan berbeda dari masing-masing tipe komoditas. Contoh saat ini yang bisa memberikan pemasukan tinggi bagi petani adalah penyediaan benih tanaman holtikultura.

Dengan meningkatkan investasi di bidang pertanian, dinilai Eko sebagai cara yang paling efektif dalam mengurangi kemiskinan dan ketimpangan pendapatan.

“Mengingat lahan petani yang sempit, maka perlu intensifikasi. Tantangannya, intensifikasi harus didukung riset dan pengembangan (research and development /R&D). Dukungan riset dan pengembangan bagi pertanian menjadi sangat penting,” terangnya.

Jika dibandingkan dengan negara lain, alokasi riset dan pengembangan Indonesia masih sangat kecil. Karena, belanja untuk riset dan pengembangan di Indonesia baru 0,27 persen dari PDB pertanian, sedangkan Malaysia 1,92 persen.

Faktor belanja riset dan pengembangan rendah ini mempunyai dampak tersendiri. Sehingga, penemuan benih unggul yang dihasilkan tak seperti diharapkan. Padahal berdasarkan data McKinsey Global Institute, imbas hasil dari riset dan pengembangan tinggi sekali, antara 43-151. @yuanto

loading...

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.