Header Ads

Gubernur Minta Pempus Perhatikan Perikanan dan Pariwisata Maluku

siwalimanews.com
Gubernur Minta Pempus Perhatikan Perikanan dan Pariwisata Maluku

Ambon - Gubernur Maluku, Said Assagaff meminta perhatian khusus pemerintah pusat (pempus) terhadap aspek kelautan, perikanan dan pariwisata di Provinsi Ma­luku.

Hal ini di­sampaikan gubernur dalam diskusi dengan topik “Tantangan Memimpin dan Membangun Maluku sebagai Provinsi dengan Wilayah Laut Terluas di Indonesia” di Hotel Ak­mani, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (8/12) malam.

Diskusi dihadiri Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo sebagai pembicara kunci.

Kabag Humas Setda Maluku Bobby Palapia kepada Siwalima melalui sia­ran persnya, Jumat (9/12) menje­laskan, dalam paparannya gubernur mengu­rai­kan,  selama ini banyak orang tidak mengira jika wila­yah Maluku itu lebih luas wilayah perairan atau lautannya daripada daratannya.  93% terdari dari lautan dan sisanya 7% daratan.

Total luas wilayah Maluku sekitar 705.645 km2 dengan lebih dari  1500 pulau, luas daratan 47.350,42 km2 dan luas wilayah perairan mencapai 658.294,69 km2 dengan jumlah penduduk sekitar 1.7 juta jiwa (data tahun 2016), terdiri dari 12 kabu­paten, dua kota, 98 kecamatan, 33 kelurahan dan 989 negeri.

“Setelah dimekarkan menjadi dua provinsi, Provinsi Maluku dan Ma­luku Utara, toh wilayah Maluku tetap luas, mencapai 700 ribu meter2. Coba, mana ada wilayah provinsi lain seperti itu di Indonesia. Jadi Maluku memang unik dan tentu saja tidak gampang memimpin dan me­ngembangkan wilayah yang dido­minasi oleh lautan daripada wilayah daratan,” ungkap gubernur.

Terhadap situasi dan kondisi se­macam itu, gubernur Maluku berha­rap agar ada perhatian khusus dari pemerintah pusat dan berbagai para pemangku kepentingan lainnya ter­hadap Maluku antara lain peme­nu­han transportasi berupa kapal-kapal feri dan kapal penumpang termasuk penambahan pesawat.

Pemerintah pusat dan pihak swas­ta juga diharapkan dapat memper­hatikan potensi kelautan dan peri­kanan Maluku. Potensi perikanan tangkap Maluku mencapai 1,72 juta ton per tahun dengan tingkat pro­duksi perikanan sebesar 534.484,9 ton di tahun 2013 dan potensi peri­kanan budi daya laut seluas 495.300 Ha, potensi perikanan budi daya air tawar 36.251 Ha dan perikanan budi daya air payau 191.150 Ha.

Pengembangan sektor kelautan dan perikanan juga menurut guber­nur dapat diandalkan menjadi salah satu poros utama pertumbuhan eko­nomi di masa depan jika perma­sa­lahan yang ada dapat diatasi secara bertahap dan ditunjang Pemerintah pusat serta para pemangku kepenti­ngan. Dengan demikian, para investor terdorong untuk berinvestasi pada industri perikanan seperti usa­ha penangkapan ikan, budidaya, pe­ngolahan dan pemasaran serta ke­giatan-kegiatan usaha lainnya.

“Pada tahun 2010, pemerintah pusat pernah menggagas ide untuk menjadikan Maluku sebagai Lum­bung Ikan Nasional  atau LIN. Tetapi gagasan tersebut kurang ditindak­lanjuti serius hingga hari ini.  Mas­yarakat Maluku menunggu-nunggu dan mempertanyakannya. Kami butuh kejelasan dan perhatian serius terhadap potensi kelautan dan perikanan yang kami miliki. Kalau konsepnya bukan lagi LIN, lalu apa?,” tanya gubernur.

Gubernur juga menyebutkan sejumlah isu pokok pengembangan sektor kelautan dan perikanan yang hingga kini masih menjadi persoalan di antaranya;  pencemaran laut, gejala penangkapan berlebih (over fishing), degradasi habitat pesisir (mangrove, terumbu karang, padang lamun, estuaria, dll), konflik penggu­naan ruang dan sumber daya, ke­miskinan nelayan dan pembudidaya ikan, terbatasnya teknologi kelautan dan perikanan, serta terbatasnya sum­ber permodalan yang dapat digunakan untuk investasi yang keseluruhannya berakibat pada kemiskinan di sebagian besar penduduk di wilayah pesisir, khususnya pembudidaya ikan dan nelayan dalam skala kecil.

Pariwisata Maluku

Maluku tidak hanya identik de­ngan laut dan perikanan. Di daratan, Maluku juga memiliki potensi lain seperti sektor perkebunan, perta­nian, peternakan, sumber daya alam termasuk Blok Masela. 

Di bidang pariwisata, alam Maluku yang indah adalah surga yang terpen­dam. Sejak zaman purbakala, Maluku diakui telah memiliki daya tarik alam selain rempah-rempahnya hingga di­puja-puji bangsa-bangsa lain.  Kebu­da­yaan dan situs-situs sejarah peni­nggalan zaman kolonial juga menjadi daya tarik tersendiri apalagi masih terpelihara.

Gubernur yakin industri pariwisata adalah salah satu aspek penting yang harus dikembangkan dan memiliki pengaruh besar. Pengembangan pariwisata dapat menjadi pintu masuk untuk pengembangan sektor-sektor lainnya di Maluku. “Turis asing dan domestik yang datang ke Maluku, apalagi jika turis tersebut memiliki latar belakang sebagai pengusaha,  sangat mungkin untuk melakukan investasi di Maluku setelah menyaksikan sendiri potensi yang dimiliki Maluku.  Jadi kami serius mengembangkan pariwisata dan karena itu harus kerja sama dengan berbagai pihak,” demikian gubernur berharap. (S-43)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.