Evaluasi prestasi atlet di PON Jabar, KONI Jatim bakal selektif pilih pelatih
Acara Diskusi Sehari “Evaluasi Prestasi Jawa Timur di PON XIX/2016 Jawa Barat” yang digelar Pokja Wartawan Olahraga Jatim bersama KONI Jatim di hotel Mercure, Surabaya, Senin (05/12/2016). Foto: Fredy-lensaindonesia.comLENSAINDONESIA.COM: Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur bersama Pokja Wartawan Olahraga Jatim menggelar diskusi untuk mengevalusai berbagai kekurangan kontingen PON Provinsi Jatim yang hanya mampu merbut posisi runner up di PON XIX/2016 Jawa Barat lalu.
Evaluasi ini dilakukan untuk mempersiapkan diri menyambut PON XX/2020 Papua mendatang.
Diskusi Sehari bertema “Evaluasi Prestasi Jawa Timur di PON XIX/2016 Jawa Barat” yang digelar di hotel Mercure, Surabaya ini menghasilkan beberapa poin penting salahsatunya, selektif dalam menunjuk pelatih yang akan menangani atlet Puslatda.
“Belajar dari pengalaman Puslatda kemarin, maka ke depan kami akan selektif dalam memilih pelatih,” kata Ketua Umum KONI Jatim Erlangga Satriagung dalam pembukaan Diskusi Sehari “Evaluasi Prestasi Jawa Timur di PON XIX/2016 Jawa Barat” di hotel Mercure, Surabaya, Senin (05/12/2016).
Erlangga mengatakan, banyak pelatih yang tidak bisa menyusun program latihan. Hal ini yang akhirnya berdampak pada perkembangan atletnya.
Seharusnya, lanjut dia, pelatih harus mampu membuat program latihan untuk atletnya agar bisa pada peak performance-nya di even yang diikutinya.
“Jadi pelatih harus bisa membuat program, tentu pelatih harus bersertifikat. Tidak bisa jadi pelatih hanya karena pernah menjadi jagoan ketika masih menjadi atlet, karena teknik kepelatihan di era sekarang sudah berbeda,” jelasanya.
Ia menyapaikan, selektif memilih pelatih Puslatda Jatim nanti tidak hanya berlaku pada pelatih lokal, tapi juga asing. “Pelatih asing yang didatangkan harus pelatih berkualitas, karena anggaran yang dikeluarkan tidak sedikit,” terangnya.
“KONI mendatangkan pelatih asing bukan untuk menafikan pelatih lokal, tapi semata-mata perkembangan ilmu olahraga atau sport science di luar negeri sangat luar biasa. Kunci prestasi atlet itu ada di pelatih,” jelas Erlangga.
Untuk menggelar Puslatda, lanjutnya, KONI mengeluarkan anggaran Rp 5 miliar setiap bulannya. “Banyak program persiapan menyambut PON kemarin yang dilakukan. Selain mendatangkan pelatih asing, KONI juga mengirim atlet berlatih ke luar negeri, agar atlet yang digembleng bisa mendapatkan prestasi bagus di PON 2016,” tutur Erlangga.
Masih dalam rangka meningkatkan prestasi atlet, KONI Jatim juga melakukan tes kesehatan kepada seluruh atlet Puslatda. Hasilnya, 26 persen atlet yang menyumbangkan medali emas di berbagai even mengalami penurunan fungsi ginjal. Ada yang parah dan setengah parah.
Dari hasil tes kesehatan juga diketahui 52 persen atlet mengalami berbagai macam cedera. Sampai-sampai mayoritas atlet menolak melakukan tes, karena merasa tidak mengalami cedera. “Maka kami melapor ke Gubernur Jatim (Soekarwo). Kami minta format pembinaan harus dirombak, karena tidak fair atlet yang ditargetkan emas tapi secara fisik hancur,” ungkap Erlangga.
Untuk itu, Erlangga menyebut KONI belajar sport science ke Australia dan menemukan format bagaimana membina atlet dan semua aspek dikawal. “Akhirnya kami membentuk tiga pilar yang jadi pola pembinaan olahraga di Jatim, yaitu fisik, kesehatan dan psikologi,” tandasnya.
Diskusi Sehari dihadiri lima nara sumber yaitu , Nurul Ansori (pelatih selam), Indra Sibarani (pelatih senam), Erlangga Satriagung (Ketua Umum KONI Jatim), Djoko Pekik (Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta), Tandiyo Rahayu (Dekan FIK Universitas Negeri Semarang).@fredy

Post a Comment