Warga Minta Papilaya Turun Lapangan Awasi Kinerja SKPD
Ambon - KeberhasilanFJ Papilaya membawa perubahan sejak mengemban tugas Caretaker Walikota Ambon, haruslah juga diikuti dengan turun ke lapangan mengawasi kinerja SKPD.
Keberhasilan menata birokrasi dan pembenahan di sejumlah sektor perlu diberikan apresiasi namun harus rajin turun ke lapangan untuk memantau kegiatan pembangunan yang dilakukan oleh SKPD.
“Kami berharap Papilaja harus sering turun ke lapangan dan melihat proses pembangunan karena ditakutkan menjelang akhir tahun anggaran sejumlah proyek masih dikerjakan,” ujar salah satu warga, Yosias Upui kepada Siwalima, Selasa (8/11)
Ia mencontohkan, di Pasar Mardika sering terjadi sampah yang dibiarkan menumpuk dan tidak diangkut oleh petugas Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Ambon. Bahkan ada juga masalah pedagang yang menempati badan jalan,” jelasnya.
Pasar menurutnya menjadi alat vital dari perekomonian masyarakat Kota Ambon sehingga perlu penataan yang berjenjang.
“Pasar Mardika terkesan jorok karena penuh sampah itu menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan untuk membuktikan, Caretaker harus turun lapangan sehingga bisa langsung melihat kinerja stafnya di lapangan. Jangan seperti walikota sebelumnya yang tak pernah turun langsung ke lapangan misalnya pasar melihat kinerja anak buahnya,” kata Yosias.
Selain itu katanya ada proyek-proyek yang belum tuntas dikerjakan padahal sudah hampir selesai tahun anggaran. Bahkan ada juga proyek rehabilitasi kantor yang sudah selesai namun belum ditempati. Misalnya kantor Dinas Kesehatan.
“Rehab kantor dinas kesehatan yang sudah selesai dikerjakan namun belum di tempati padahal masyarakat membutuhkan pelayanan publik,” ujar Yosias.
Di tempat terpisah, warga Kusu-Kusu Charly Haumesse mengharapkan walikota juga memperhatikan pelayanan administrasi kependudukan oleh Pemkot Ambon yang terlalu dipersulit.
“Caretaker walikota harus juga membuat perubahan terkait pelayanan administrasi kependudukan. Selama era walikota sebelumnya, tidak ada perubahan dalam pelayanan publik pada Disdukcapil karena telalu lama proses pengurusan administrasi oleh pemerintah,” ungkapnya.
Sebelumnyadiberitakan,Kendati baru bertugas selama tiga bulan, Papilaya justru telah melakukan berbagai perubahan. Anehnya hal itu tak mampu dilakukan RL, sapaan akrab Richard, selama lima tahun memimpin.
Sejumlah pegawai pemkot bahkan mengaku kepemimpin Papilaya justru jauh lebih berhasil dibandingkan era sebelumnya. Pegawai justru merasa lebih sejahtera setelah dipimpin caretaker.
Selama lima tahun kepemimpinan RL, justru pegawai pemkot baru diberikan jatah pakaian dinas sebanyak dua kali.
Papilaya juga telah melakukan berbagai efisiensi keuangan daerah. Tercatat mulai dari penghematan biaya perjalanan dinas hingga seragam pegawai telah dilakukannya.
Berbeda saat era Walikota Richard Louhenapessy, yang mana terdapat berbagai perjalanan dinas yang tidak penting tetapi justru dilakukan. Bahkan ada pejabat maupun staf yang tidak perlu diikutsertakan, namun tetap diboyong.
Di era Papilaya, untuk perjalanan dinas yang tidak penting langsung dipangkasnya. Bahkan seragam pegawai dimasukan dalam keuangan daerah sehingga tidak ada perlu lagi ada pemotongan dari gaji pegawai. (S-39)

Post a Comment