RL Lancarkan Black Campaign
Ambon - Calon Walikota Ambon Richard Louhenapessy, dinilai melakukan kampanye yang tak beretika, yaitu mengidentikan angka dua yang diperoleh pasangan PANTAS, dengan tindakan mencuri.
Tindakan tak terpuji RL itu disampaikan, saat berkampanye di kawasan Kampung Tomia, Desa Batu Merah, 16 November lalu, seperti dikutip di laman facebook Sultan Ambon, pendukung setia RL.
Di depan para pendukungnya, RL menegaskan, hanya satu jari yang selalu menunjuk ke atas. Sebaliknya untuk dua jari, ia lalu memperagakan gaya seperti orang nyolong atau mencuri.
“Ini bukan basa-basi. Hanya satu jari yang selalu menunjukkan keatas (sambil mengangkat satu jarinya). Jika pake dua jari fungsinya seperti ini (sambil memperagakan cara orang nyolong/jambret. Tidak ada orang yang mengangkat jari ke yang maha kuasa dengan cari seperti ini (memperagakan dua jari yang berkonotasi negatif itu),” katanya.
Menyikapi hal tersebut, akademisi FISIP Unpatti Paulus Koritelu menilai, pernyataan RL tersebut merupakan tindakan yang tak beretika.
“Tentu apa yang dilakukan RL itu merupakan salah satu tindakan yang tak beretika dimana seharusnya dalam kampanye seorang calon harusnya mengemukakan program kerja mereka bukannya menjatuhkan pasangan calon lain dan belum terbukti kebenarannya,” tandas Koritelu kepada Siwalima, Rabu (23/11) malam.
Dikatakan, tindakan RL menunjukkan kepanikan politik yang melanda sang kandidat. “Apalagi memang sekarang trend pasangan PANTAS yang cenderung naik, membuat RL tak bisa mengontrol apa yang ia katakan bahkan di forum umum seperti kampanye,” katanya.
Menurutnya tentu tindakan RL ini akan sangat kontradiktif dengan penilaian pemilih, karena tentunya masyarakat ingin Kota Ambon dipimpin dengan lebih beretika apalagi selama lima tahun terakhir belum ada gebrakan berarti dalam pembangunan Ambon.
“Masyarakat pemilih di Kota Ambon ini cenderung memilih tipe pemilih yang rasional tak semua fanitik. Jadi tentu mereka akan memilih pemimpin yang bukan hanya cerdas namun beretika baik serta tidak hanya berkoar-koar kini tapi harus ada bukti konkrit nanti,” tambah Koritelu
Pelanggaran
Sementara itu, Akademisi FISIP Unpatti Victor Ruhunlela menilai apa yang dilakukan RL ini sudah termasuk pelanggaran kampanye dan Panwaslu harus menindak dengan tegas apa yang pasangan PAPARISSA lakukan.
“Sebenarnya kan kampanye hitam ini tidak boleh dilakukan karena dalam kampanye harusnya pasangan calon menyampaikan program kerja mereka,” ujar Ruhunlela kepada Siwalima melalui telepon seluler kemarin.
Dikatakan, “Panwaslu harus menyampaikan teguran kerasa kepada PAPARISSA BARU secara terbuka untuk menjadi proses pembelajaran politik kepada paslon lainnya agar menjalakan pilkada secara sehat.
Ia menilai kampanye hitam yang sengaja disebarkan RL adalah bentuk ketakutan dari konsolidasi pemenangan PANTAS yang didukung 9 parpol mulai menunjukan hasil yang signifikan. Dimana dukungan masyarakt semakin mengalir ke PANTAS.
“Setiap paslon harus menghindari kampanye hitam dan bila PAPARISSA BARU melakukan ini maka mereka sudah ada dalam kondisi yang betul-betul ketakutan. Memang selama ini orang melihat figur, namun bila PANTAS menang karena kerja optimal dari parpol maka hipotesis ini terbantahkan,” pungkasnya.
Ketakutan
Sementara itu, politisi Partai Gerindra Saudah Tethol menilai pernyataan RL tersebut karena karena ada ketakutan tidak mendapat simpati dari warga kota.
“Jadi salam dua jari merupakan salam kemenangan. Saya tegaskan kalau nomor dua adalah victory atau kemenangan,” Tethol kepada Siwalima di Ambon, Rabu (23/11).
Ia menilai, lawan politik PANTAS terkesan sudah tidak memiliki lagi ide dan inovasi untuk menarik simpati warga kota. “Sebagai calon pemimpin sangat naif kalau di era sekarang ingin menjatukan kadidat lain dengan pernyataan seperti itu,” ujarnya.
Untuk itu, Tehtol mengajak lawan politik PANTAS untuk bertarung sebagai seorang kesatria karena semua yang dilakukan adalah kepentingan warga Kota Ambon.
“Warga cerdas memilih siapa pemimpin dan mereka mengenal mana pemimpin yang bekerja untuk rakyat dan mana hanya janji kosong,” kesalnya.
Di tempat yang sama Sekretaris DPD PDIP Lucky Wattimury menyayangkan hal tersebut. “Kami menyayangkan ada isu yang berkembang seperti itu di masyarakat karena sangat tidak mendidik masyarakat berdemokrasi yang baik,” kata Lucky.
Dikatakan, pemimpin yang cerdas itu pasti memiliki program yang jelas untuk bangun kota.
“Kampanye menjadi ajang adu program dan visi mili seorang kandidat maka kami harap masyarakat memilih pemimpin yang jelas berjuang untuk rakyat bukan bermain isu,” tandasnya.
Menurutnya permyataan yang disampaikan oleh kandidat dalam kampanye merupakan proses pendidikan politik yang baik dan warga kalau tertarik dapat memilik kandidat tersebut.
“Kampanye harus menjadi menjadi kampanye yang damai bukan perang isu yang membuat simpati warga kota hilang bagi kandidat tertentu,” ujarnya.
Ia menilai ada ketakutan dari calon pemimpin Kota Ambon untuk kalah sebelum bertanding. “Mari bertarung sebagai calon walikota dan wakil walikota dengan damai bukan dengan pernyataan murahan seperti itu,” tandasnya.
Sementara itu, Politisi PKS Amir Rumra juga mengaku kesal dengan adanya pernyataan yang sengaja dilontarkan untuk menjatuhkan calon tertentu.
“Pernyataan dikuti gerakan yang memeragakan langkah nyolong harus dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya dan mari kita jual program bukan jual isu,” katanya.
Dirinya meminta warga kota jangan cepat percaya dengan apa yang di ucapkan oleh calon tertentu yang tidak jelas kebenarannya.
“Mari kita didik warga ini menjadi pemilih yang cerdar sehingga ambon lebih baik kedepan karena pemimpin yang dipilih itu berdasarkan keinginan warga bukan kemenangan yang dipaksakan,” cetusnya. (S-42/S-39)

Post a Comment