Header Ads

Nilai Investasi di Sultra Hanya Rp 3,1 Triliun Dari Target Rp 6 Triliun

Kendari Pos Online
Nilai Investasi di Sultra Hanya Rp 3,1 Triliun Dari Target Rp 6 Triliun

ilustrasi

ilustrasi

KENDARIPOS.CO.ID, KENDARI- Iklim investasi di Sultra memasuki triwulan ketiga, cukup bersahabat. Dampak krisis ekonomi global yang melanda daerah ini pada triwulan kedua mulai berangsur-angsur membaik. Hanya saja, kondisinya belum terlalu normal. Pada triwulan ketiga, nilai investasi melonjak naik sekitar Rp 1 triliun. Padahal pada periode kedua nilai investasinya hanya sekitar Rp 300 miliar. Namun jumlah ini masih kecil dibanding triwulan pertama yang mencapai Rp 1,8 triliun. Hingga bulan Oktober, total investasi di Sultra mencapai Rp 3,1 triliun.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah Pelayanan Terpadu Satu Pintu (BKPMD-PTSP) Sultra, H. Masmuddin Husain mengatakan target realisasi investasi sebesar Rp 6 triliun tahun 2016 ini, sulit terealisasi. Sampai kini, realisasinya baru mencapai Rp 3,1 triliun. Namun capaian ini masih dianggap cukup wajar. Sebab hampir semua provinsi mengalami. Justru Sultra menjadi salah satu provinsi yang dianggap berhasil. Dengan waktu tersisa, nilai investasi di Sultra diperkirakan mencapai Rp 4 triliun.

“Realisasi investasi mulai membaik. Bila hingga Juni capaiannya hanya sekitar Rp 2,1 triliun, kini sudah menjadi Rp 3,1 triliun. Kendati masih kecil dibanding tahun lalu, namun capaian Sultra masih tumbuh positif dibanding provinsi lain di Indonesia,” klaim Masmuddin Husain, Jumat (26/8).
Menurun mantan Wakil Bupati (Wabup) Konawe ini, namun jumlah izin yang diterbitkan mengalami peningkatan. Sampai bulan Oktober, jumlah izin yang diterbitkan sekitar 500 izin. Banyaknya hampir sama dengan izin yang diterbitkan tahun 2015 lalu. Izin terbesar berasal dari bidang perikanan. Sektor ini secara perlahan menggantikan posisi pertambangan yang dalam beberapa tahun terus mendominasi. Apalagi sejak diberlakukannya UU nomor 4 tahun 2009 tentang Minerba. Ini artinya, investasi di sektor-sektor lainnya mulai tumbuh positif.

“Dalam beberapa tahun ini, sektor perikanan menjadi penyumbang terbesar nilai investasi. Jumlahnya mencapai 30 persen. Sementara sektor pertambangan yang dulu menjadi primadona mulai bangkit lagi. Hanya saja, sumbangsihnya masih jauh dibanding saat pengoperasian tambang masih marak. Sektor lain pun mulai tumbuh positif seperti kehutanan, kelautan, ketenagakerjaan, kesehatan dan lainnya,” jelasnya.
Membaiknya iklim investasi lanjut mantan guru teladan nasional ini, tak lepas dari terobosan yang dilakukan pemerintah. Penerbitan izin terus dipermudah. Bila sebelumnya, pengurusan izin melalui banyak pintu, kini melalui satu loket. Jadi seluruh izin telah didelegasikan ke BKPMD-PTSP. Bukan hanya itu, pemerintah juga telah membuka layanan online. Bila tidak memiliki waktu berurusan di kantor, pengusaha bisa mengurusnya melalui website PTSP.

“Kalau memantau perkembangan, sektor pertambangan mulai menggeliat. Adanya pembangunan pabrik smelter di beberapa daerah seperti Kawasan Industri Konawe (KIK), Bombana, Konawe Selatan dan Kolaka. Bila sudah beroperasi, nilai investasinya akan terdongkrak signifikan. Apalagi iklim investasi di Sultra masih terbilang baik,” pungkasnya. (mal)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.