Dinsos Sajikan Makanan Basi Bagi Pengungsi Soabali
Ambon - Penderitan pengungsi Soabali yang hampir sebulan tinggal di tenda-tenda pengungsian belum juga berakhir.
Kini, para pengungsi korban musibah kebakaran itu disajikan makanan basi oleh Dinas Sosial. Anehnya pengadaan makanan dalam dikemas dalam kotak itu diatur langsung oleh Kadis Sosial Kota Ambon Wa Ode Muna.
Saktiansa salah satu pengungsi Soabali kepada Siwalima di tenda pengungsi, Senin (21/11) mengaku para pengungsi sering diberikan makanan siap saji tetapi tidak dapat dikonsumsi.
“Kebanyakan makanan yang disajikan pagi hari itu sudah basi sehingga tidak bisa dikonsumsi oleh para pengungsi,” ujarnya.
Dijelaskan, hampir setiap pagi hari para pengungsi diberikan menu makanan nasi kuning atau nasi goreng atau nasi kelapa.
“Mereka memberikan makanan itu terlalu pagi. Ternyata setelah dibiarkan satu jam kemudian makanan itu sudah basi. Hal yang sama juga terjadi untuk makan malam,” jelasnya.
Pasca ketahuan diberikan makanan basi, kata Saktiansa, para pengungsi kemudian membuangnya dan membeli makanan yang baru. “Kita tidak mungkin mengkonsumsi makanan yang sudah basi walaupun sebagai pengungsi yang tinggal di tenda-tenda milik pemerintah,” jelas Saktiansa.
Ia pun meminta perhatian dari pemkot terkait dengan masalah ini dan juga memperjelas nasib para pengungsi. “Kami minta pemkot memperhatikan karena ini masalah serius karena pengungsi semua ini manusia dan tidak mungkin makan makanan basi,” cetusnya.
Informasi yang dihimpun Siwalima menyebutkan penyediaan makanan bagi para peng-ungsi soabali ditangani langsung oleh Kadis Sosial Kota Ambon.
Semua makanan dimasak di rumah sang kadis, barulah disuplai kepada para pengungsi sehingga ketika didiamkan kurang lebih 1 jam ternyata makanan sudah basi.
Sementara itu Kadis Sosial Kota Ambon Wa Ode Muna ketika hubungi Siwalima melalui telepon selulernya namun tak merespons.
Dibongkar
Sementara itu, Pemkot Ambon memastikan 27 November mendatang menjadi batas akhir pengungsi Soabali menempati tenda pengungsi karena keesokan harinya tenda yang ditempati harus dibongkar.
“Kita memastikan penempatan tenda pengungsi sudah diperpanjang satu minggu kedepan terhitung dari tanggal 20 November dan berakhir 27 November,” ungkap Kepala BPDB Kota Ambon, Enrico Matitaputty ketika dikonfirmasi Siwalima, Senin (21/11).
Dikatakan, pihaknya sudah melakukan pertemuan dengan para pengungsi guna membicarakan kelanjutan masa tanggap darurat. “Jadi sebelum proses pembongkaran dilakukan, pemerintah pusat akan memberikan anggaran sebesar Rp 25 juta/rumah dan pemerintah provinsi akan menyalurkan bantuan sebesar Rp 7,5 juta/rumah,” kata Matitaputty.
Anggaran ini akan dicairkan dalam waktu dekat agar para pengungsi dapat memperbaiki rumah bekas terbakar sebelum tenda pengungsi di bongkar.
“Uang ini cukup banyak dan dipastikan dikucurkan bagi 45 rumah yang dilaporkan terbakar dimana 11 rumah rusak ringan dan sisanya rusak berat,” jelas Matitaputty.
Untuki itu setelah masyarakat menerima kucuran dana dari pemerintah maka langsung digunakan untuk proses perbaikan rumah yang terbakar.
“Kita berharap dengan waktu satu Minggu ini perumahan sudah dapat dibereskan sehingga ketika dibongkar warga bisa kembali ke bekas rumah,” ungkap Matitaputty.
Diakui bantuan yang akan diberikan bersumber dari Kementerian Sosial dan pemerintah provinsi sedangkan dari Pemkot Ambon belum dapat diberikan. “Bantuan bagi pengungsi jalan baru akan dimasukan Pemkot Ambon pada APBD tahun 2017 mendatang sehingga belum bisa diberikan,” kata Matitaputty.
Harapan Pengungsi
Di tempat terpisah Rovik Idris salah satu pengungsi mengaku bantuan ini tidak segera dicairkan maka harus mengungsi kemana lagi. “Kami berharap kepada pemerintah agar dapat mencairkan anggaran agar rumah yang sudah terbakar dapat diperbaiki,” jelas Idris.
Sementara itu Saktiansa juga menambahkan untuk sementara dirinya harus mencari kos sambil menunggu pencairan dari pemerintah. “Keluarga saya besar dan kalau uang belum cair kemudian tenda sudah dibongkar terpaksa kita harus mencari kos-kosan,” terangnya.
Menurutnya tidak ada alternatif lain selain kos karena dana stimulan yang dijanjikan pemerintah tak kunjung datang. “Kami berharap anggaran itu segera dicairkan dan proses pembangunan dapat segera dilaksanakan,” cetusnya.
Kebakaran yang terjadi 24 Oktober lalu itu menghanguskan 45 unit rumah yang didiami 88 KK (331 jiwa). (S-39)

Post a Comment