Header Ads

Isu SARA Pilgub DKI merembet ke Jatim, NasDem imbau semua pihak berpolitik santun

LensaIndonesia.com
Isu SARA Pilgub DKI merembet ke Jatim, NasDem imbau semua pihak berpolitik santun
Politisi Nasdem yang juga anggota DPRD Jatim, Achmad Heri. Foto: Istimewa

LENSAINDONESIA.COM: Politisi Partai Nasional Demokrat (NasDem) Jawa Timur Achmad Heri mengajak semua pihak untuk berpolitik santun, bermartabat dan beraklahkul karimah sehingga tak menimbulkan konflik yang berbau SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan).

Menurut anggota DPRD Jawa Timur ini, hal itu sangat diperlukan untuk tetap menjaga keutuhan bangsa Indonesia.

Menanggapi soal pernyataan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terkait Al Quran Surat Al Maidah ayat 51, ia menyebut pernyataannya itu seharusnya tak diungkapkan di depan umum. Dan tidak perlu pihak lain lalu membawa masalah tersebut menjadi semakin panas. Sikap Ahok yang akan kembali mencalonkan diri maju jadi Cagub di Pilgub DKI 2017 tersebut dinilai menyinggung seluruh umat Islam di Indonesia, termasuk di Jawa Timur.

“Berikan contoh dan teladan pendidikan politik yang baik. Jangan sampai menggunakan simbol agama, suku. Intinya jauhkan isu-isu SARA. Bagaimana pun persatuan dan kesatuan tetap lebih berharga bagi kita,” tegas politisi asal Fraksi Partai NasDem-Hanura DPRD Jatim ini kepada LICOM di Surabaya, Selasa (11/12/2016).

Pria yang juga Ketua Badan Legislatif (Banleg) DPRD Jatim itu juga meminta agar menjaga NKRI dalam konteks berdemokrasi. Jangan sampai menghalalkan segala cara untuk meraih kemenagan di Pilkada.

Disinggung soal partainya, NasDem yang ikut mengusung Ahok di Pilgub DKI 2017, Heri menegaskan itu bukan kewenangan NasDem Jatim. “Dalam konteks ini mudah-mudahan di Jatim tidak ketularan. Ini adalah kewenangan pusat dan akan kita sampaikan agar melakukan komunikasi politik yang lebih baik,” harapnya.

Bagi Heri, tak hanya partainya yang miris melihat pernyataan Ahok tapi juga seluruh masyarakat. “Dalam Pilkada sekali lagi dimohon tak menggunakan simbol-simbol agama. Kedepankan pendidikan politik yang bermartabat dan berakhlakul karimah,” imbuhnya.

Di Jatim, sejumlah elemen masyarakat protes keras terhadap aksi Ahok yang dinilai menghina salah satu surat di Al-Quran yang merupakan kitab suci umat Islam. Kiai Kampung Jatim KH Fahrurrozi protes keras atas sikap Ahok. “Sebagai muslim kami sangat terkejut ada orang di luar muslim mencoba menelaah firman Allah Swt, yang sebenarnya jangankan menelaah, untuk menyentuh pun jika tak punya wudhu tak diperbolehkan,” terang Gus Fahrur (biasa ia akrab disapa).

Gus Fahrur menilai surat Al Maidah ayat 51 itu dipolitisasi Ahok, dan awalnya ia mengaku tak langsung mempercayai tayangan yang dilihatnya di Youtube itu. “Saya lihat sampai 15 kali dan memang pernyataan Ahok dalam konteks merendahkan firman Allah Swt itu sangat kelihatan,” cetusnya.

Pihaknya menuntut Ahok minta maaf serta tak mengulangi perbuatan itu karena memang bukan domainnya. Tak hanya itu, Ahok juga diperingatkan untuk tidak sekali-kali menggunakan istilah dalam Islam, terutama Al Quran.

Lainnya, yakni Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim tak terima dengan sikap Ahok yang dinilai melakukan penodaan Agama Islam. Besok, Rabu (12/10/2016) MUI Jatim akan mendatangi SPKT Polda Jatim untuk melaporkan sikap Ahok tersebut.@sarifa

loading...

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.