Header Ads

Anggaran Pengembangan Industri Gula Dikurangi

Kendari Pos Online
Anggaran Pengembangan Industri Gula Dikurangi

KENDARIPOS.CO.ID,KENDARI—Penetapan Sulawesi Tenggara sebagai kawasan sentra produksi gula nasional belum bisa terealisasi. Pengurangan anggaran yang dilakukan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) ikut berimbas pada distribusi APBN di daerah ini. Karena penghematan anggaran, program pembukaan areal perkebunan tebu batal dilaksanakan. Alhasil, rencana investasi pembangunan pabrik gula ikut tertunda. Pasalnya, investor memilih menunggu.

“Kalau tahun ini, saya kira sudah tidak memungkinkan. Plot anggarannya, kan sudah dipangkas. Makanya, kita tunggu saja tahun depan. Kemungkinan, anggarannya akan dialokasikan lagi. Rencana pembukaan perkebunan tebu baru masuk dalam program prioritas Kementerian Pertanian. Namun semuanya tergantung pada draft APBN 2017. Proses pembahasannya baru akan dimulai bulan November mendatang,” kata Yesna Suarni, Plt Kepala Dinas Perkebunan dan Holtikultura (Dishol) Sultra di sela-sela rapat pembahasan APBD-P 2016, Rabu (5/10).

Dengan adanya penundaan anggaran lanjut Yesna, secara otomatis akan berimbas pada pelaksanaan program di daerah. Mulai dari penyediaan lahan perkebunan baru hingga rencana pembangunan pabrik. Dari puluhan ribu hektar lahan, capaiannya masih jauh dari target. Meskipun sudah ada lokasi, namun Pemda belum bisa memberi kepastian. Pasalnya, belum ada jaminan anggaran dari kementerian. Terutama kabupaten yang ditunjuk sebagai kawasan sentra pengembangan tebu. Seperti Muna, Konawe Selatan, Bombana, Kolaka dan Konawe.

“Sejauh ini, belum ada laporan realisasi yang masuk. Namun kami telah mendapat gambaran, kisaran lahan yang disediakan daerah. Apalagi pemerintah daerah telah melakukan pendataan lahan maupun para kelompok tani calon penerima bantuan. Provinsi pun tidak bisa memaksakan. Untuk melaksanakan kegiatan, tidak hanya juknis saja namun dibarengi anggaran,” jelas Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Sultra ini.

Mengenai pembangunan pabrik, Yesna pun belum bisa memastikan. Kendati ada beberapa investor yang tertarik, namun belum bisa dilaksanakan. Untuk membangun pabrik, investor butuh kepastian adanya suplai bahan (tebu). Sementara hingga kini, programnya belum berjalan. Diperkirakan, produksi tebu harus mencapai ribuan ton setiap tahun. Untuk saat ini, produksinya masih sangat terbatas.

“Sudah ada yang berminat. Namun mereka lebih posisi wait and see. Kalau ada peluang dan jaminan, mereka akan bangun. Jika sebaliknya, mereka akan tunda. Sebab hal ini beresiko. Sebab investasi membangun pabrik gula mencapai triliunan rupiah. Makanya, mereka (pengusaha) sangat hati-hati,” pungkasnya. (Amal)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.