Header Ads

Lima Anak GPM Terima Bantuan Kursi Roda

siwalimanews.com
Lima Anak GPM Terima Bantuan Kursi Roda

Ambon - Lima anak berkebu­tuhan khusus di Maluku dalam wilayah Gereja Protestan Maluku (GPM) menerima bantuan kursi roda dari Maria Monique Lastwish Foundation berkerjasama dengan Bravo Seira Club, Selasa (27/9) di aula Kantor Sinode GPM.

Ketua Bravo Seira mewakili Maria Monique Lastwish Foundation, Marlen Petta dalam sam­butannya mengungkapkan, Bravo Seira berker­ja­sama de­ngan Maria Monique Lastwish Foun­dation yang dipim­pin Natalia Sut­risno Tjahja. Nata­lia men­dirikan yayasan ini, karena melak­sanakan ke­ingi­nan terakhir anaknya yang bernama Maria Monique ketika mengalami sakit paru-paru dan membutuhkan biaya hingga Rp 2 miliar untuk  pengobatan Singapura.

“Natalia saat itu menga­takan dia tidak mempunyai uang sebanyak itu, tetapi ke­mudian ada dokter yang mem­bantu. Maria bahkan sempat mati suri dan akhirnya dia harus meninggal. Natalia ber­mimpi anaknya meminta dia untuk memberikan perhatian pada anak-anak di seluruh dunia. Keinginan terakhir sang anak itulah yang men­do­rong Natalia membangun yayasan yang diberi nama Maria Monique Lastwish Foundation, mengikuti nama anaknya,” jelas Petta.

Karena itu, Bravo Seira Club yang dipimpin Petta kemudian menjalin kerjasama dengan Maria Monique Las­twish Foundation untuk ber­bagi kebahagian dengan anak-anak yang berkebu­tu­han khusus di berbagai Ne­gara, termasuk di Maluku.

Petta mengatakan, Maria Monique Lastwish Foundation akan memberikan per­hatian bagi Provinsi Maluku khususnya pada anak-anak berkebutuhan khusus, sehi­ngga bantuan yang diberikan ini bukan terakhir, tetapi akan berikan juga yang lain.

Yayasan Maria Monique Lastwish Foundation merasa bahagia bisa berbahagia de­ngan anak-anak yang butuh perhatian khusus.

“Kendati itu kecil tetapi yayasan sangat bahagia, dan bantuan ini diberikan kepada anak-anak yang betul-betul kurang beruntung di Kota Ambon,  Yayasan memberi­kan bantuan tidak terbatas hanya ada pada lima orang saja, tetapi kita akan mem­berikan kepada anak-anak di seluruh Maluku, kepada anak-anak yang memang betul-betul tidak beruntung, dan kita membahagiakan me­reka, itu menjadi  kebahagian kita,” kata Petta.

Lanjut Petta, pihaknya tidak berpikir sektarian. Bantuan diberikan kepada dua komu­nitas, karena ini bekerja untuk kemanusiaan.

“Bravo Seira Club ibu-ibu yang status sosial bagus yang peduli dengan sosial, dan kita kerja sosial kita ber­kumpul hanya untuk mem­berikan kebahagian kepada siapapun yang membutuh­kan, dan kita memang sejalan dengan Yayasan Maria, network yang kita pakai dan kalau itu berkumpul hanya untuk memberikan kebahgiaan ke­pada siapapun, dan jika itu berguna, why not,” tuturnya.

Petta juga menambahkan, beberapa waktu lalu Yayasan Maria Monique Lastwish me­ngumpulkan 30 anak penjual tas kresek di Mardika dan membawa mereka melihat pesawat hercules. “Anak-anak sangat baha­gia, dan saya merasa mela­kukan satu kebahagian ketika melihat anak-anak tersenyum dan bahagia,” ujar Petta.

Dorong Gereja

Sekretaris Umum Sinode GPM, Pendeta Elifas Maspai­tella dalam sambutannya, me­rasa bersyukur mendapatkan bantuan dari Maria Monique Lastwish Foundation, sekali­gus mendorong gereja turut melaksanakan pembinaan ke­pada anak-anak berkebutu­han khusus, yang telah diran­cangkan dalam Program In­duk Pelayanan (PIP/RIPP) GPM 2015-2025 yang meru­pakan salah satu subjek pe­layanan umat.

“Kita telah merancang pula kurikulum SMPTI supaya anak -anak berkebutuhan khu­sus merasa termotivasi melan­jut­kan hidup, dan tidak terpen­jara de­ngan keberadaan diri ber­kebu­tuhan khusus itu,” ujarnya.

Karena itu, lanjutnya,  ban­tuan Yayasan Maria Monique Lastwish Foundation mem­buat gereja dapat meneruskan kerjasama pelayanan sosial kepada seluruh warga jemaat.

“Kita berharap mereka dengan jenis kebutuhan yang lain suatu waktu turut dibantu untuk meningkatkan motivasi diri didalam hidup mereka. Karena itu, kita butuh men­data jemaat dengan berkebu­tuhan khusus, supaya selain bantuan karikatif seperti ini, tetapi ada sesuatu yang  men­jadi gerakan bersama untuk melibat kira-kira langkah gereja selanjutnya berkaitan dengan pembinaan jemaat yang berkebutuhan khusus, apakah melalui  pendidikan formal, nonformal dan semua itu menjadi bagian strategis pengembangan pelayanan ge­reja,” ujarnya.

Kelima anak berkebutuhan khusus yang mendapatkan bantuan kursi roda itu adalah Alfredo Selanno, Hanzel Riupassa, Anggu Lokollo, Wendy de Fretes dan Alfredo Lewaharilla.

Masuk 15 Wanita Berpengaruh

Pendiri Maria Monique Lastwish Foundation, Natalia Sutrisno Tjahya masuk dalam 15 wanita berpengaruh di Indonesia atas penilaian Galleries Lafayette Pacific Place melalui women of influence.

Ini merupakan program dari Departemen Store dan program ini baru pertama kali diadakan oleh Galleries Lafa­yette Pacific Place. 15 wanita berpengaruh tersebut adalah Annisa Pohan, Amanda Soe­kasah, Dian Sastrowardoyo, Ghea Panggabean, Henni Adli, Janna Soekasah, Marie Eka Pangestu, Mariko Tampi, Natalia S Tjahya, Novita Yu­nus, Susan Budihardjo, Wu­lan Guritno dan Wulan Tilaar.

Natalia Soetrisna Tjahya memberikan inspirasi dan mewujudkan harapan bagi 45 ribu anak yang sakit.

Ketua Bravo Seira Club, Marlen Petta mengungkap­kan, Natalia seorang peng­usaha sukses yang kemudian beralih pada bidang kemanu­sian untuk membahagiakan anak-anak.

Natalia mendedikasikan diri sepenuhnya untuk aktivitas sosial dengan tujuan hidup­nya yakni membuat anak-anak bahagia karena itu ia berhasil masuk dalam 15 be­sar penilaian Galleries Lafa­yette Pacific Place melalui Women of Influence.

Lewat Maria Monique Last Wish Foundation, Natalia mewujudkan keinginan terbe­sar anaknya yang telah meni­nggal bulan Maret 2006 lalu akibat menderita penyakit paru-paru. Dia ingin memba­hagiakan anak-anak yang kurang berkebutuhan khu­sus­nya atau kurang berun­tung. (Mg-1)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.