Header Ads

DPR Senang dan Rakyat Berduka atas Amputasi Anggaran APBN P 2016 Sebesar Rp.64.7 Triliun

Kanal Nasional
DPR Senang dan Rakyat Berduka atas Amputasi Anggaran APBN P 2016 Sebesar Rp.64.7 Triliun
Uchok Sky Khadafi (Direktur CBA)/Foto Facebook

Uchok Sky Khadafi (Direktur CBA)/Foto Facebook

Laporan Wartawan Kanal Nasional, A. Syamsul B

Kania.com, Jakarta- Direktur Center of Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi mengatakan, APBN Perubahaan 2016, baru saja disepakati dan disyahkan oleh DPR dengan pemerintah. Dari kesepakatan, antara DPR dengan pemerintah,  87 kementerian atau lembaga negara mendapat alokasi anggaran sebesar Rp.767.8 Triliun.

Walaupun begitu, tambah Uchok, APBN P 2016 belum direaliasasikan oleh kementerian atau lembaga, tapi kok tiba tiba, tidak ada angin atau hujan, Presiden Jokowi mengeluarkan  Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 8 Tahun 2016, pertanggal 26 Agustus 2016. Dimana isi intruksi tersebut adalah menginstruksikan Kementerian/Lembaga (K/L) untuk melakukan langkah-langkah penghematan dalam rangka pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) Tahun Anggaran 2016.

“Intruksi Presiden tentang pemotongan anggaran ini, bukan sebuah penghematan anggaran, tapi ini pemerintah,  namanya melakukan amputasi anggaran dengan wajah bengis, karena dalam amputasi anggaran ini, ditemukan wajah pemerintah yang kejam dan bengis,  karena selain belum ada pembahasan dan persetujuan dari DPR, pemerintah, kok seenak saja main potong atau amputasi anggaran atas 85 kementerian atau lembaga negara yang berdampak kepada penghorbankan program program lembaga penegakan hukum, program anti korupsi, dan program program untuk mengatasi kemiskinan,” ungkap Uchok, lewat rilisnya kepada kanalnasional.com, Kamis (1/9).

Menurut Uchok, amputasi anggaran ini, tanpa pembahasan DPR, memperlihatkan presiden Jokowi sedang memakai gaya politik Ahok yang paling jelek di Jakarta. Tanpa pernah mau melakukan pembahasan atau minta permisi kepada dewan,  langsung saja, melakukan tindakan tanpa berpikir, atau nanti kalau ada akibat dari amputasi anggaran ini, baru dipikirkan.  Masa bodoh dengan  peraturan yang sudah tidak ada. Anggap saja, Seolah olah aturan belum dibikin atau belum ada peraturan yang jelas, yang harus dijalankan oleh pemerintah Jokowi.

“Kalau begitu, untuk apa ada parlemen sebagai perwakilan rakyat,  bubarkan saja DPR, Pak Jokowi. Tidak usah ada lembaga parlemen agar presiden Jokowi punya full berkuasa tanpa ada yang mengawasi atau mitra dalam pembahasan anggaran. Dan lupakan saja dengan peraturanya yang menegaskan, bahwa pergeseran anggaran atau pergantian ataupun penghapusan nomenklatur program harus ada perbahasan atau pemberitahuan anggota dewan sebagai hak budget dan pengawasan DPR,” ujarnya.

Kemudian, lanjut Uchok, cerita yang lain dan patut dicuriga adalah pemerintah melakukan “suap” kepada parlemen yakni dengan cara pemerintah tidak  melakukan amputasi anggaran kepada dua lembaga negara yakni DPR dan MPR. Hal ini merupakan sebuah strategis pemerintah untuk meredam kemarahan atau kritik anggota dewan kepada presiden Jokowi. Selanjutnya,sebagimana untuk diketahui bahwa dari 87 kementerian atau lembaga yang punya alokasi anggaran, hanya 2 lembaga negara yang tidak diamputasi anggarannya, yaitu DPR dan MPR.

“Dan sejak Inpres Nomor 8 Tahun 2016, pertanggal 26 Agustus 2016, dikeluarkan oleh pemerintah, tidak ada atau minim  dari anggota dewan untuk melakukan protes atau kritik kepada pemerintahan Jokowi. Hal ini berarti, DPR sudah dilumpuhkan, dan kalaupun DPR masih “hidup”saat ini, hanya dipergunakan sebagai tukang stempel pemerintah agar semua anggota dewan mengikuti semua kemauan pemerintahan Jokowi dengan mengkorban rakyat kecil,” tegas Uchok.

Selanjutnya, CBA (Center For Budget Analysis) punya catatan dalam lampiran Inpres tersebut. Dimana tertuang besaran penghematan atau anggaran yang sudah diamputasi sebesar Rp.64.7 Triliun dari alokasi anggaran sebesar Rp.767.8 Triliun.

Jadi, alokasi anggaran kementerian atau lembaga, saat ini merosot tajam ke bawah sekali, setelah Sri mulyani Jadi Menteri Keuangaan, dan kini tinggal tersisa sebesar Rp.666.6 Triliun. Dan amputasi anggaran ini yang jadi korban hanya rakyat kecil, dan wajar saat ini rakyat berduka, dan prihatin atas berkurang anggaran buat rakyat kecil padahal buat pokok dan bunga utang, pemerintah tidak berani melakukan pemotongan anggaran. Berani hanya sama Rakyat kecil,” kunci Uchok Sky Khadafi,
Direktur CBA itu.

Editor : Admin Redaksi

(Visited 6 times, 6 visits today)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.